SHARE

Ketua DPR yang juga pucuk pimpinan Partai Golkar, Setya Novanto, lagi lagi menunjukkan kebesaran hatinya.

Ia menegaskan kembali harapannya agar Komisi Pemberantasan Korupsi mengurai kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri sampai tuntas.
Setya Novanto berharap KPK bisa  bekerja profesional, independen dan tidak diintervensi.
Ketua DPR ini juga meminta kalangan media tidak menyudutkan salah satu pihak dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP Kemendagri ini. Karena semuanya masih bersifat dugaan, oleh karena itu semua harus menjunjung tinggi asas tidak bersalah.
Termasuk kalangan media.
dialah
Andi Agustinus atau Andi Narogong
“Saya sangat faham kerja teman-teman media. Kalian adalah mitra strategis kami di DPR. Saya selalu mengapresiasi media. Tetapi, dalam kasus e-KTP ini, hendaknya teman-teman media juga lebih profesional. Jangan mengada-ada untuk menyebut bahwa saya kenal baik atau dekat dengan Andi Narogong,” terang Setya Novanto.
Ia kembali menegaskan juga, sejak awal tidak ada satu pun kader Golkar yang menerima aliran dana dari proyek e-KTP Kemendagri itu.
“Jadi buat apa takut?” Setya Novanto menegaskan.
haer
Chaeruman Haraahap, salah satu kader Golkar
Ada sinyalemen liar dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan yang menuding keterlibatan Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek prestiseus Kemendagri ini. Ia disebut sebagai orang yang ikut membantu mengegolkan proyek e-KTP di DPR, termasuik sebagai tokoh yang memperkenalkan Andi Narogong kepada kalangan anggota dewan.
Padahal, Andi Narogong dalam pengakuannya saat diperiksa KPK menyatakan bahwa ia lebih kenal dekat dengan Irman, mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri.
Diah Anggraini, mantan Sekretaris Jenderal Kemendagri,  mengaku pernah menerima keluhan dari Andi Agustinus alias Andi Narogong terkait permintaan duit dari terdakwa kasus dugaan korupsi proyek e-KTP, Irman, tersebut.
diah
Diah Anggraini
Andi diketahui merupakan pengusaha yang menjadi rekanan Kemdagri sebagai pelaksana proyek tersebut. Duit itu disebut-sebut akan diberikan pada mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.
“Saat ketemu di Komisi II DPR, Pak Andi bilang sama saya ‘pusing bu, pak Irman minta duit terus untuk pak menteri’,” ujar Diah saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (16/3) lampau.

Baca Juga  Kasus E-KPK Identik dengan Kasus Daging Sapi, Ada Usulan Hak Angket

Menurutnya, Andi saat itu juga membawa catatan kecil. Namun Diah mengaku tak terlalu memerhatikan. Ia juga tak tahu apakah permintaan duit itu terkait proyek e-KTP.

kasuskpk1
Irman & Sugiharto

“Pak Andi memang sering wira-wiri di DPR. Dia bawa catatan kecil waktu ketemu, tapi saya enggak tahu ada kaitan dengan e-KTP atau tidak,” katanya.

Saat majelis hakim menyinggung keterlibatan Andi dalam proyek e-KTP, Diah mengaku tak mengetahuinya. Menurutnya, saat itu Andi hanya diberi wewenang untuk mengawal anggaran proyek e-KTP. Namun saat hakim anggota menanyakan tugas untuk mengawal anggaran, Diah lagi-lagi tak mengetahuinya.

“Setahu saya Pak Andi bertugas kawal anggaran. Tapi saya tidak tahu banyak karena bukan ranah saya,” ucapnya.