SHARE

JAKARTA – Tim kuasa CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, juga akan mendatangkan enam orang pakar untuk sidang kelanjutan praperadilan masalah sangkaan SMS ancaman hari ini, Rabu (12/7/2017).

Satu diantara saksi pakar yang didatangkan yaitu pakar pidana yang sempat bersaksi pada sidang Ahok yaitu, Abdul Chair Ramadhan.

” Besok itu ada Ayah Abdul Chair Ramadan, pakar pidana Unkris. Ibu Lely Adriane pakar komunikasi dari Kampus Bengkulu, pakar bhs dr Syahrial dari UI. Besok kita kemukakan, kita prioritaskan, ” tutur pengacara Hary Tanoe, Munathsir Mustaman, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2017).

Seperti di ketahui Abdul Chair Ramadhan sempat jadi pakar hukum pidana pada sidang sangkaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang di gelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Februari kemarin.

Waktu itu kredibilitas dianya jadi pakar pidana dipertanyakan karna dianya juga menjabat jadi pakar hukum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat.

Munathsir membetulkan Abdul Chair Ramadhan adalah saksi pakar pidana yang sempat bersaksi di sidang Ahok. ” Iya, benar, ” kata Munathsir.

Terkecuali pakar pidana, pihak Hary Tanoe juga akan mendatangkan pakar bhs, ITE, komunikasi, sampai Dewan Pers.

Hadirnya pakar ITE, diinginkan tim kuasa hukum Hary Tanoe bisa menjelaskan masalah ini dari bagian hukum siber. Sesaat pakar komunikasi juga akan menerangkan unsur ancaman dalam SMS itu.

Sesaat pakar dari Dewan Pers yang juga akan didatangkan besok untuk menerangkan unsur intervensi di kabar berita mass media saat menulis berita berkaitan masalah SMS ancaman yang disangka meneror jaksa Yulianto.

” Bila saksi pakar Dewan Pers, kami maksudnya karna seperti yang sempat disibakkan oleh Yulianto kalau dia terasa terancam karna ramainya kabar berita berkaitan masalah SMS ini. Tempo hari banyak di media. Karenanya, dia terasa terancam, ” terang Munathsir.

Baca Juga  Sebagai Alat Bukti Pengacara Pakai Putusan Praperadilan Komjen Budi Gunawan

” Kami ingin menunjukkan kalau media itu tetaplah berdiri sendiri karna ada kode etik semua jenis yang ditata hingga tak ada yang dapat mengintervensi mass media dalam kabar berita, ” lebih Munathsir.

Seperti di ketahui, Hary Tanoe jadi tersangka karna SMS yang di kirim ke jaksa Yulianto didugakan memiliki kandungan unsur ancaman. Polisi menjerat Hary Tanoe dengan Pasal 29 UU Nomor 11/2008 mengenai ITE jo pasal 45B UU Nomor 19/2016 mengenai Perubahan UU ITE Nomor 11/2008. Ancaman pidana penjaranya 4 th..