SHARE

Kepala Tubuh Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menilainya data berkaitan 430 warga negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari Turki butuh dikaji selanjutnya. Langkah itu manfaat meyakinkan ada atau tidaknya WNI sebagai simpatisan grup Negara Islam Irak Suriah (ISIS).

Diluar itu, menurut Suhardi, data itu juga tidak mengatakan apakah ke-430 WNI cuma orang dewasa atau termasuk juga anak-anak.

” Bila data itu, bila kita itu kan termasuk juga anak-anak serta perempuan. Maka dari itu janganlah sangat ini (di kuatirkan), ” kata Suhardi Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hari ke-2 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (20/7/2017).

Menurut Suhardi, bila dihitung dengan memperbandingkan jumlah keseluruhan masyarakat Indonesia yang menjangkau 200 juta jiwa, jadi angka 430 orang itu termasuk kecil. Suhardi percaya, terorisme masih tetap dapat diantisipasi.

” Sejumlah 400 demikian (430) dari populasi kita sejumlah 200 juta lebih ya. Dengan persentase, kita masih tetap dapat mengatur lah, ” kata dia.

Akan tetapi, lanjut Suhardi, bukanlah bermakna gosip terorisme diabaikan. Berkaca pada momen di Marawi Filipina, menurut Suhardi, gerakan grup separatisme disana berawal dari grup yang jumlahnya kecil.

” Ya, ini mesti disikapi serius meskipun jumlahnya kecil namun kan mungkin saja menguasai kaya di Filipina Selatan, kita belajar dari situ, ” kata Suhardi.

Kementerian Luar Negeri mengatakan, selama 2015-2017, ada 430 WNI yang dideportasi dari Turki. Rinciannya, 193 WNI di th. 2015, 60 WNI di th. 2016 serta 177 WNI di th. 2017.

Meskipun demikian, WNI yang dideportasi itu belum juga dapat di pastikan jadi simpatisan ISIS serta akan menyebrang ke Suriah. Memerlukan kontrol selanjutnya apakah mereka berkaitan ISIS serta terancam sangsi pidana.