SHARE

Kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP tidak terlalu menimbulkan keguncangan di jagat politik nasional. Akan tetapi, eskalasi kehebohannya kemungkinan besar akan jauh berbeda jika kasus korupsi proyek Pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang benar-benar siap dituntaskan.

babasik

Kasus korupsi P3SON Hambalang selalu dikaitkan dengan Partai Demokrat. Kasus ini sudah menjerat elit politik Partai Demokrat masuk ke dalam bui. Kasus P3SON Hambalang menghantarkan mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Andi Mallarangeng dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum masuk penjara.

Andi Alifian Mallarangeng baru Jumat (21/4) pekan lalu menghirup udara bebas setelah hampir empat tahun menghuni LP Sukamiskin, Bandung. Anas masih di bui.

nasiuduk
Anas Urbaningrum, saat dijadikan saksi di kasus e-KTP

Kasus P3SON Hambalang dibuka untuk memungkinkan kembali terjeratnya orang-orang yang diduga menerima uang hasil korupsi Proyek Hambalang. Komisi Pemberantasan Korupsi sudah menjadikan adik Andi Alifian Mallarangeng, yakni Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel, sebagai tersangka ke-6 pada kasus P3SON Hambalang ini. ‘

Choel dijadikan pintu masuk untuk menjerat tersangka lainnya.

Tersangka ini itu berhubungan dengan siapa saja. Terus uang itu kemudian mengalir ke mana aja. Kan dua itu yang selalu diikuti oleh penyidik. Jadi habis itu nanti nemu siapa nemu siapa, itu yang selalu dikemukakan pimpinan KPK terkait pengusutan kembali kasus P3SON Hambalang ini.

Dimulainya kembali penelusuran uang dan orang-orang yang terlibat dalam kasus Hambalang ini memberikan sebuah peringatan penting kepada orang-orang yang diduga terlibat. Ada beberapa nama yang diduga juga terlibat dalam kasus ini, namun yang paling menjadi perhatian adalah dugaan keterlibatan Pangeran Cikeas, Edhie Baskoro Yudhoyono, atau yang kerap disebut Ibas.

mangkrakye
Sebagian dari proyek P3SON Hambalang yang mangkrak

Nama Ibas kerap disebutkan terlibat dalam kasus Hambalang. Mantan bendara umum Partai Demokrat, Mohammad Nazaruddin, yang menjadi peniup peluit (whistle blower) kasus Hambalang dengan gamblang menyebutkan keterlibatan Ibas.

Baca Juga  58% Masyarakat Puas Kinerja KPK

Kesaksian Nazaruddin dalam Kasus Hambalang ini telah menjerumuskan Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum sebagai otak korupsi Proyek Hambalang tersebut.

Nazaruddin menyebut Ibas menerima uang sebanyak 200.000 dollar AS, setara sekitar Rp 2,3 miliar, terkait proyek P3SON Hambalang.

Anas sendiri yang adalah otak dari proyek korupsi ini turut menguatkan indikasi keterlibatan Ibas dalam Kasus Hambalang.

Bahkan Anas dengan nyeleneh menyatakan kalau dia jadi SBY akan menghantarkan sendiri Ibas ke KPK.

Anas menyampaikan pernyataannya itu tahun 2014 silam. Kini, tiga tahun kemudian, statemen Anas seakan menguap di udara.

tangkap

Sampai sekarang SBY tidak juga mengantarkan Ibas ke KPK. Setidaknya juga untuk mengklarifikasi keterlibatannya.

Desakan untuk mengusut keterlibatan Ibas sudah terus disuarakan oleh publik. Kini, dengan ditelusurinya kembali Kasus Hambalang dan kemana uang mengalir dan siapa saja lagi yang terlibat, maka Ibas diyakini harus siap-siap dipanggil untuk mengklarifikasi keterlibatannya.

Kami menuntut KPK tidak tebang pilih dalam perkara Century. Kami juga menuntut KPK menangkap Ibas karena diduga terlibat skandal korupsi Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional Hambalang, itu yang antara lain disampaikan koordinator Total Keadilan (Tangkap), Kurnia, saat berorasi di depan Gedung KPK.