SHARE

Jakarta – Polisi selalu lakukan pengusutan pada masalah orderan fiktif ojek on-line yang dialamatkan pada Julianto. Kapolres Jakarta Timur, Kombes Andry Wibowo mengatakan timnya sudah memperoleh info mengenai orang yang disangka aktor dengan manual.

” Sesungguhnya telah ketemu semuanya sesungguhnya orang-orangnya namun tidak ngaku bila pesan. Itu butuh kita dalami. Kelak pembuktian itu kan yang menunjukkan orang itu ngaku apa bohong, jujur atau tidak gitu lo, ” kata Andry, Senin (10/7/2017).

Andry menjelaskan orderan-orderan itu dikerjakan dengan system yang berbasiskan IT. Hingga polisi akan menelusuri ID yang pesan orderan itu.

” Juga akan dikilas balik, itukan IT ya jadi butuh saat juga untuk memverifikasi, ” papar Andry.

Andry mengatakan verifikasi dikerjakan untuk meyakinkan akun yang dipakai itu dihack orang yang lain atau tidak.

” Ada tidak saluran beda atau dihack oleh orang yang lain. Maka dari itu kita saksikan dari berbasiskan IT Itu ada yang ngehack tidak akunnya, ” terang Andry.

Terlebih dulu, Juiianto Sudrajat seseorang pegawai satu bank swasta di Matraman memperoleh teror orderan fiktif Go Food serta Go Box yang dialamatkan padanya. Orderan itu termasuk sangatlah banyak. Julianto mengatakan orderan itu dikerjakan oleh orang yang dikenalnya di media sosial.

Terkecuali Julianto, teror orderan fiktif juga dihadapi oleh Dafi, seseorang PPSU atau umum dimaksud pasukan oranye di Kebon Kacang, Jakpus. Teror orderan fiktif tersebut di latar belakangi oleh masalah asmara.

Ke-2 orang itu juga mengatakan nama Sugiarti warga Kayu Manis, yang dituduh jadi dalang teror order fiktif itu. Pada Sugiarti, Julianto serta Dafi sempat ikut serta asmara. Tetapi, Arti menyanggah tuduhan Julianto serta Dafi. Arti menyatakan tidak sempat lakukan teror fiktif itu.