SHARE

JAKARTA — Melambatnya perkembangan industri tekstil serta product tekstil dirasa efeknya oleh Industri Kecil Menengah (IKM) yang bergerak di bidang konveksi. Direktur Jenderal IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyebutkan, banyak usaha konveksi yang tidak dapat jual product mereka.

” Efeknya terlihat, konveksi tidak laris, banyak numpuk barangnya, ” kata Gati, di kantornya, Senin (10/7).

Untuk mengakali hal tersebut, Gati menyebutkan Ditjen IKM telah mulai mengajarkan kiat usaha untuk mempersiapkan IKM supaya mulai berpindah ke pasar on-line. Ia berargumen, pemakaian basis jual-beli on-line yaitu satu keniscayaan di masa digital sekarang ini.

Terutama, pemakaian basis digital akan membuat product IKM lebih kompetitif dari sisi harga karna tidak ada cost yang perlu di keluarkan untuk sewa toko serta cost operasionalnya.

” Kita memanglah harus cepat mengajari mereka untuk jualan digital. Th. 2019 kelak semuanya IKM mesti telah masuk ke on-line, ” ucapnya.

Terkecuali mengarah pasar jual-beli on-line, Gati memberikan pihaknya akan mendorong supaya IKM yang sudah mapan bisa selekasnya lakukan export. Untuk export itu, kata dia, IKM dapat bekerja bersama dengan PT. Pos.

Terlebih dulu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat penjualan product tekstil di pasar domestik alami kelesuan dalam lima th. paling akhir. Puncaknya berlangsung pada kurtal ke-2 2017 dimana berlangsung penurunan 30 % di banding kuartal pertama kemarin.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menyebutkan, beberapa th. terlebih dulu keinginan juga akan product tekstil bertambah penting mendekati Idul Fitri. Hal tersebut dengan kasat mata bisa diliat dari padatnya volume kendaraan yang menuju Pusat Grosir Tanah Abang mendekati Ramadhan.

Tetapi, menurut Ade, mulai sejak satu tahun lebih paling akhir penambahan keinginan itu makin menyusut. Pada kuartal ke-2 2016 lantas, dimana ada peristiwa Idul Fitri, masih tetap ada kenaikan keinginan product tekstil sebesar 10 %. Tetapi, di kuartal ke-2 2017, malah keinginan anjlok begitu dalam ke angka 30 %.