SHARE
Miryam S. Haryani alias Yani Hanura, terpaksa menangis dalam persidangan kasus e-KTP.

Persidangan kasus mega korupsi e-KTP, diprediksi akan semakin panjang waktunya alias molor. Tenggat waktu tiga bulan guna memutuskan perkara atas terdakwa Irman dan Sugiharto di pengadilan Tipikor (Tindak Pindana Korupsi) Jakarta, sulit untuk terealisasi.

Hal ini dimungkinkan karena beberapa saksi sudah membantah tudingan jaksa KPK, Irene Putri. Bahkan Miryam S. Haryani, mantan anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Hanura, meminta untuk mencaut BAP (Beriat Acara Pemeriksaan). Yani Hanura, sapaannya, merasa diancam dan tertekan saat memberikan keterangan di kantor KPK.

Sementara Pengacara terdakwa kasus e-KTP, Soesilo Ari Wibowo, malah meragukan kesaksian Yani Hanura tersebut. Yani Hanura yang mengaku dipaksa tiga penyidik untuk mengakui adanya pembagian uang kepada sejumlah anggota DPR RI periode 2009-2014, kini mati-matian menolak pernyataan tersebut.

“Penyidik itu kan penyidik andal, senior, yang kita tahu semua Beliau-beliau itu yang banyak menguak kasus besar,” ujar Soesilo. “Apakah iya melakukan penekanan sebagaimana dikatakan Bu Yani? Kita lihat.”

Jika Yani Hanura tetap ngotot, KPK akan memutar video yang merekam proses pemeriksaan terhadap Yani Hanura yang dilakukan oleh Novel Baswedan cs. Tentunya akan terlihat, penekanan, pemaksaan atau ancamaen apa seperti yang dituduhkan oleh Yani. Namun sebeliknya, video tersebut juga bisa membuktikan sebaliknya, alias Yani Hanura hanya mencoba untuk ngeles dan mencari selamat atas nasibnya sendiri dalam kasus ini.

 

Baca Juga  Yasonna Laoly: KPK Mau Cekal Saya? Apa Urusannya?