SHARE
Anies Baswedan saat menjenguk sepupunya, Novel Baswedan.

Dua kasus besar tengah mencuat akhir –akhir ini dan menyita perhatian public. Selain kasus persidangan Ahok, ada pulka kasus e-KTP. Kedua-duanya menyertakan satu nama penting yang menjadi  perhatian, yakni Baswedan.

Ya, Anies Baswedan saat ini tengah bertarung dengan Basuki Tjhaja Purnama alias Ahok di Pilgub DKI Jakarta. Sementara satu Baswedan lainnya, Novel Baswedan, tengah bertarung untuk membawa kasus-kasus besar di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dua Baswedan diyakini bakal terimbas. Terbukti Novel sudah terkena aksi kekerasan dengan air keras oleh oknum tertentu. Pihak yang melakukan aksi kekerasan itu belum diketahui, meski Agus Rahardjo, Ketua KPK, langsung mengindikasi dari jajaran e-KTP.

Andai benar tudingan Agus Raharrdjo, maka KPK tengah menghadapi tembok besar berupa deretan partai politik. Mereka ini sulit dikalahkan oleh KPK. Bahkan dalam beberapa konflik, KPK bisa dikalahkan oleh partai politik.

Nah, dari sederet partai politik itu, PDIP menjadi partai politik yang kerap berseberangan dan berbenturan dengan KPK. Partai berlambang kepala banteng itu selalu melawan saat kasus BLBI coba dibuka atau ditelisik oleh KPK.

Dalam kasus e-KTP pun, banyak kader PDIP yang terimbas. Selain Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng ada pula Olly Dondokambey Gubernur Sulut. Belum lagi sosok Yasona Laoly, Menkum dan HAM.

Bila KPK melakukan aksi bersih-bersih tanpa pandang bulu, maka PDIP akan kehilangan tiga sosok penting yang bisa mempengaruhi elektablitas mereka.

Pengamat politik dan budayawan Adhie Massardi, sudah melihat fenomena ini jauh-jauh hari. Pada tanggal 4 April 2017, ia sudah mentwit soal ini. Cuitannya pun lain dari yang lain.

Adhie melihat pertarungan antara Ahok vs Anies Baswedan dan PDIP vs Novel Baswedan. Pertarungan Ahok vs Anies sudah berjalan lama dan ramai. Tak lama, seminggu kemudian, pertarungan PDIP vs Novel Baswedan mulai terlihat. Tepatnya pada tanggal 11 April 2017, kala Novel Baswedan mengalami serangan kekerasan dengan air keras.

Baca Juga  Anies Soal Bullying: Jakarta Tak Punya Gugus Pencegahan Kekerasan

Mungkinkah sosok Adhie, asal mentwit tanpa punya bukti atau landasan kuat soal isi twitnya?

Bagi mereka yang belum tahu sosok Adhie, bisa saja anggapan itu muncul. Namun bagi pihak-pihak yang banyak tahu bahkan kenal lama dengan Adhie, tentunya yakin jika penulis puisi Negeri Para Bedebah itu punya sesuatu yang menjadi bukti atau kunci baginya membuat twit itu.

Seharusnya, petunjuk dari Adhie ini bisa menjadi kunci untuk menelisik lebih jauh ada apa dibalik semua kasus yang tengah ramai itu. Polisi diharapkan untuk lebih melihat kasus ini dari sudut pandang yang lain. Atau bisa saja dari “behind the story”.

Tanpa berbekal kemampuan seperti itu, maka Adhie yang kemudian membuat Twit baru, meyakini bahkan kasus ini akan kembali buntu.