SHARE

BANGKA – Anto (29), warga Dusun Baru, Desa Gantung, Belitung Timur, masih tetap meringis kesakitan bila sangat banyak bergerak diatas kasur, di ruangan tengah tempat tinggalnya.

Anto baru diijinkan pulang pada Selasa (11/7) pagi tempo hari sesudah melakukan perawatan intensif sekian hari di Puskesmas Gantung.

Istri Anto serta Mertuanya yang datang dari Tanjungpandan terlihat menolong kepentingan Anto yang tengah terbaring.

Ayah dengan satu anak ini adalah korban serangan buaya di dermaga tambat nelayan di Desa Gantung, Sabtu (8/7) sekitaran jam 22. 00 malam kemarin.

ia memperoleh 100 jahitan untuk luka di punggung kanan serta beberapa luka di kepalanya.

Mujur nyawanya tertolong karna masih tetap pernah diselamatkan adikanya yang bernama Riko.

” Karna petugas dirumah sakit, jumlah jahitannya hingga seratus, ” katanya didapati Pos Belitung, Selasa (11/7) tempo hari.

Anto terserang buaya saat menggalang kapal kepunyaannya di dermaga nelayan.

Menggalang yaitu langkah nelayan melindungi perahu supaya tidak miring waktu diparkirkan.

Kesibukan ini membutuhkan seseorang nelayan masuk ke air.

” Waktu didalam air itu, saya terserang buaya. Yang digigit itu pundak ke bawah punggung. Ke air itu se-dada, ” kata dia.

Anto tidak ingat berapakah lama detik-detik mebahayakan waktu buaya ganas itu mencengkram lengannya, termasuk juga perkiraan ukuran buaya itu.

Sadar dianya terserang, Anto berupaya membelitkan tangan kanannya sebanyak-banyaknya ke tali.

Dia cuma ingat, sebelumnya ditolong Riko, Anto pernah ditarik serta ditimbul-tenggelamkan buaya yang tengah berupaya memangsanya.

Waktu itu, pundaknya telah perih karna gigitan buaya, lantas tangannya yang terikat talipun telah makin sakit karna selalu ditarik buaya.

” Pernah ditarik ke air, ditimbul-tenggelamkan, dicelupin di air mungkin saja hingga lima kali. Waktu muncul itulah saya teriak minta tolong. Namun dari langkah dia nyerang, itu buaya besar. Saya tidak paham mengira-ngira ukurannya, saya tidak ingat, ” katanya.

Ada teriakan minta tolong, Riko segera menuju ke arah nada serta merasakan kakaknya tengah terserang buaya.

Tanpa ada dibantu senjata apa pun, Riko lalu terjun ke air serta berusaha menyingkirkan serangan buaya lewat cara menendang-nendangkan kakinya.

Gigitan juga lepas serta Anto selekasnya dinaikkan ke atas kapal serta dilarikan ke Puskesmas Gangung.

” Waktu lepas, saya segera dinaikkan ke perahu. Namun dibawah air itu, buaya itu masih tetap mendekat ingin menyerang sekali lagi. Maju juga dia, ingin nyerang sekali lagi, ” katanya.

Anto mengharapkan, peristiwa buaya menyerang manusia tidak butuh berlangsung sekali lagi.

Menurut dia, memerlukan usaha supaya serangan tidak berlangsung sekali lagi.

Satu salah satunya lewat cara kearifan lokal dengan kata lain memakai layanan dukun kampong.

” Bila dapat janganlah sekali lagi, gimanapun langkahnya. Bergantung keyakinan semasing, kata orang dapat memakai dukun kampong. Kata orang, dukun kampong disini telah wafat sekitaran satu bulan lebih yang kemarin. Kami mengharapkan jangan pernah berlangsung sekali lagi, ” kata Anto.

Tuti, istri Anto menyebutkan, waktu dirawat dirumah sakit Anto pernah pingsan empat kali.

Itu berlangsung disangka karna suaminya banyak kehabisan darah. Karena serangan itu, pundak belakang menghadap ketiak Anto luka menganga.

” Kata orang rumah sakit, jahitannya hingga seratus lebih. Jam 3 pagi baru usai jahitnya, ” tutur istri Anto.

Adik Anto, Riko menyebutkan ia menyingkirkan buaya yang menyerang kakaknya lewat cara ditendang.

Dia juga tidak dapat mengira-ngira ukuran buaya itu.

” Soalnya kondisiya malam serta didalam air. Kepalanya saja yang terlihat. Saya tendang gunakan kaki buaya itu, segera lepas. Kemudian ingin nyerang sekali lagi, namun kami telah diatas perahu semuanya, ” kata Riko.

Tempat Anto menggalang kapal kepunyaannya terdapat di dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang abru dibangun di Desa Gantung.

Pantauan Pos Belitung tempo hari, lebih dari lima kapal tengah parkir.

Sisi dari jalur muara Sungai Lenggang itu terlihat tenang.

” Bila menyerang manusia baru kesempatan ini. Memanglah sering teliat. Banyak atau tidaknya kami tidak tau, ” tutur warga di sekitaran dermaga waktu didapati Pos Belitung tempo hari.

ISTRI Anto, Tuti menyebutkan, peristiwa yang menyerang suaminya sekian waktu lalu yaitu peristiwa serangan buaya yang ke-3 kalinya di Kecamatan Gantung.

Serangan berlangsung di tiga titik berlainan dalam kurun saat sekitaran sebulan. Seperti Anto, semuanya korbannya selamat.

” Kata orang puskesmas, ini yang ke-3. Satunya yang kronis, di kolong dekat Polsek Gantung sana. Itu kronis, hingga mesti dirujuk ke RSUD Beltim serta dirawat disana, ”
Info yang dikumpulkan Pos Belitung, serangan buaya pada warga berlangsung di sungai dekat Kantor Masalah Agama (KUA) Gantung, dekat Polsek Gantung sebagian minggu yang kemarin.

Korban yaat itu tengah mandi selesai melimbang timah memperoleh serangan dibagian paha. Pihak RSUD Beltim membetulkan hal itu tetapi korban di ketahui telah pulang.

” Memanglah ada. Namun telah balik sekitaran satu minggu waktu lalu, ” tutur perawat di ruangan pasien bedah.

Peristiwa ke-3 berlangsung di kolong yang dimaksud warga dengan sebutan daerah Sudung, Desa Lenggang. Buaya menyambar tangan warga. Tetapi, luka korban dilaporkan tidak separah dua serangan yang lain.