SHARE
Setya Novanto, kepopulerannya dijadikan KPK sebagai bidikan meski mereka-reka kasus.

Usaha Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk  menjerat Setya Novanto, sepertinya tak pernah berhenti. Meski sudah bersaksi secara gambling di sidang kasus e-KTP di Pangadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (6/4/2017), namun KPK tak pernah puas pada keterangan Setnov.

KPK terus dan terus mencari-cari kelemahan Setnov. Bahkan terkesan mereka mengada-ada dalam menjebak Ketua DPR RI itu dalam berbagai kasus. Misalnya soal keinginan untuk membuktikan kedekatan Hubungan Setnov dengan salah satu tersangka kasus e-KTP, Andi Narogong alias Andi Agustinus.

Dalam persidangan kasus e-KTP  Setya Novanto sebagai salah satu saksi, sudah menjelaskan hubungannya dengan Andi Narogong. Ketua Umum Partai Golkar ini hanya tahu soal Andi Narogong, kala ingin menjajaki bisnis atribut partai. Bukan sebagai pengusaha rekanan di Kemendagri dalam proyek e-KTP.

Setnov mengaku bertemu Andi Narogong di café T-box miliknya. Andi kalau itu memperkenalkan diri sebagai eksportir kaos dari China. Namun saat mengajukan proposal kerja sama atribut partai, harga yang diberikan oleh Andi Narogoing dianggap terlalu tinggi oleh Setnov. “Harga yang ditawarkan saudara Andi menurut saya terlalu mahal. Jadi ya tidak ada bisnis,” kata Setnov. Selepas itu, mereka tidak memiliki lagi Hubungan bisnis.

Namun KPK terus saja mendesak dengan sejumlah argument yang tak bermutu dan cenderung mengada-ada. “Jadi kita memiliki bukti, namun yang kita sampaikan pada perkara di persidangan ini untuk kebutuhan pembuktian terhadap dua terdakwa tersebut,” ujar Febri Diansyah di Gedung KPK Kuningan Jakarta Selatan, Kamis 6 April 2017.

Bantahan Setya Novanto tentang hubungannya dengan Andi Narogong, sepertinya tak dianggap oleh KPK. Padahal kesaksian yang diberikan oleh Setya Novanto adalah keterangan resmi di bawah sumpah. “Jadi bantahan-bantahan tersangka terlalu relevan bagi KPK karena kita punya kewenangan mencari bukti lain,” kata Febri.

Baca Juga  Ini Nama 8 Saksi di Sidang ke-8

Sementara soal bukti-bukti kedekatan dan lain-lain KPK hingga saat ini masih mencari-cari atau mereka-reka sesuai keinginan mereka. Namun selain jawaban lugas dan jujur dari Setnov, bisa dipastikan KPK tidak akan dapat menemukan bukti baru, karena memang hal itu toidak ada.