SHARE
Novel Baswedan menangani kasus-kasus besar.

Novel Baswedan merupakan salah satu penyidik senior di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Mantan perwira kepolisian ini menjadi salah satu andalan komisi antirasuah tersebut dalam menangani kasu-kasus korupsi yang terbilang kakap.

Sebelumnya, Novel sudah beberapa kali mengalami terror yang selalu membahayakan nyawanya. Namun penyidik ini terbilang tangguh. Ia tak kalap dan ketakutan. Bahkan dua minggu sebelum diserang dua orang dengan air keras, Selasa (11/4/2017), di depan rumahnya, Novel meminta pengawalan untuk dirinya dari kepolisian ditarik.

Tentu hal ini sangat riskan mengingat, banyak pihak-pihak yang masih menaruh dendam kepadanya karena berbagai kasus yang ia tangani. Apalagi Novel tergolong penyidik yang 100% sukses dalam karier penyidikannya.

Sejak bergabung ke KPK tahun 2009 dan diangkat menjadi penyidik tetap pada 2014, ia sukses membongkar beberapa kasus korupsi besar. Berikut ini beberapa kasus yang sukses diselesaikan oleh pria kelahiran 22 Juni 1977 itu.

  1. Cek Pelawat

Penyidik KPK Novel Baswedan menjemput tersangka kasus cek pelawat Nunun Nurbaeti, yang menjadi buron, pada Februari 2011. Kasus ini juga menyeret Miranda Goeltom.

Miranda Goeltom, tersangkut kasus cek pelawat.
Miranda Goeltom, tersangkut kasus cek pelawat.
  1. Korupsi Simulator SIM

Pada kasus simulator SIM, Novel menjadi ketua satgas penyidik yang memeriksa tersangka Kakorlantas Irjen Djoko Susilo. Novel, yang saat itu juga anggota Polri aktif, memimpin penggeledahan di ruang kerja Irjen Djoko Susilo, seniornya di korps baju cokelat.

Djoko akhirnya divonis 18 tahun di tingkat kasasi. Kasus korupsi simulator SIM pada 2012 itu juga menyeret Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia Sukotjo S. Bambang, yang dihukum 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan. Sukotjo terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama terkait dengan pengadaan simulator SIM di Korlantas Polri pada 2011.

Baca Juga  KPK Periksa Lagi Kepala Dinas PU Mojokerto

Sukotjo terbukti memperkaya diri dan orang lain dalam proyek pengadaan simulator SIM senilai Rp 198 miliar.

Ia memperkaya diri sebesar Rp 3,9 miliar dan orang lain, seperti mantan Kakorlantas Djoko Susilo Rp 32 miliar, mantan Wakakorlantas Didik Purnomo Rp 50 juta, dan bos PT Citra Mandiri Metalindo Abadi Rp 88,4 miliar. Total kerugian negara dalam kasus ini sebesar Rp 121 miliar.

Djoko Susilo, terpidana kasus simulator SIM.
Djoko Susilo, terpidana kasus simulator SIM.
  1. Suap Wisma Atlet SEA Games Palembang dan Pengadaan Alat Kesehatan

Novel pernah menjemput mantan Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin, yang menjadi buron korupsi suap wisma Atlet SEA Games di Palembang dan pengadaan alat kesehatan di Cartagena, Kolombia, 7 Agustus 2011. Novel saat itu tergabung dalam tim gabungan KPK, Mabes Polri, Kementerian Hukum dan HAM, serta Interpol.

Tertangkapnya Nazaruddin, akhirnya terkuak adanya kerugian negara sebesar Rp 30 miliar untuk wisma atlet dan Rp 7 miliar untuk alat kesehatan.

Muhammad Nazaruddin, terpidana kasus wisma atlet.
Muhammad Nazaruddin, terpidana kasus wisma atlet.

4. Suap Hakim MK Akil Mochtar

Novel Baswedan merupakan salah satu penyidik KPK yang ikut terlihat dalam penggeledahan rumah eks Ketua MK Akil Mochtar di Jalan Widya Candra 3 Nomor 7 pada Kamis (3/10/2013).

Kasus korupsi yang melibatkan ketua hakim konstitusi itu terkait dengan suap sengketa pilkada. Sejumlah uang diberikan kepada Akil untuk mempengaruhi putusan perkara permohonan keberatan atas hasil pilkada di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Awalnya, Akil meminta Rp 6 miliar kepada Rusli lewat pengacara Rusli.

Uang Rp 2,9 miliar itu ditransfer ke rekening tabungan perusahaan Ratu Rita, yaitu ke CV Ratu Samagad. Skandal itu terungkap saat KPK menangkap Akil setelah menerima sejumlah uang dari pengacara Chairun Nisa.

Alhasil, terbongkar permainan Akil dalam memperdagangkan keadilan demokrasi. Komplotan itu lalu diadili dengan berkas terpisah.

Baca Juga  Ini Pendapat Ahli Hukum Tata Negara Terkait Pencegahan Terhadap Ketua DPR

Total kerugian negara dalam kasus tersebut adalah Rp 46 miliar dan pencucian uang sebesar Rp 181 miliar.

Akil Muchtar, terpidana kasus suap Pilkada.
Akil Muchtar, terpidana kasus suap Pilkada.
  1. Megakorupsi Proyek e-KTP

Salah satu tersangka e-KTP, Miryam Haryani, mengaku pernah ditekan penyidik KPK saat diperiksa. Kesaksian Miryam kala itu membuat heboh jalannya sidang di Pengadilan Tipikor, JL Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat , Kamis (23/3/2017). Politikus Hanura itu menangis saat bersidang dan mengaku ditekan oleh penyidik KPK saat proses penyidikan.

Satu dari tiga penyidik yang disebut menekan Miryam adalah Novel Baswedan, kemudian Miryam mencabut seluruh keterangannya di persidangan. Buntut pencabutan keterangan itu, KPK menetapkan Miryam sebagai tersangka dugaan memberi keterangan palsu dan disangkakan dengan Pasal 22 juncto Pasal 25 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

KPK sudah menetapkan dua terdakwa dalam kasus ini, yaitu Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil Sugiharto dan stafnya, Irman. KPK masih akan terus mengusut kasus yang merugikan negara sebesar RP 2,3 triliun ini.

Dakwaan KPK menyebut adanya bagi-bagi uang kepada sejumlah pihak, dari anggota DPR saat itu, pejabat Kemdagri, BPK, hingga Kemenkeu untuk memuluskan proses penganggaran. Hingga saat ini proses penyidikan kasus itu masih berjalan.

Miryam S. Haryani, terdaka kasus kesaksian palsu dan saksi kasus e-KTP.
Miryam S. Haryani, terdaka kasus kesaksian palsu dan saksi kasus e-KTP.