SHARE

Bayu Adhinugroho Arianto, anak dari Jaksa Agung HM Prasetyo, saat ini menjabat Koordinator Intel di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Jika keberhasilannya memang merupakan buah dari kerja keras, tentu ia layak mendapatnya. Akan tetapi, kuat dugaan bahwa Bayu memperoleh posisinya lebih-lebih karena dorongan ayahnya.

Paparan ini menjadi salah satu bukti betapa kinerja Kejaksaan Agung di bawah kendali HM Prasetyo memang terus mendapatkan sorotan. Prasetyo dinilai memainkan peran tersendiri di balik rekor buruk kinerja Kejagung diantara seluruh kementerian/lembaga sepanjang tahun 2015.

Kepala Bidang Advokasi Pusat Kajian Politik Hukum Indonesia (PKPPI), M. Ferdi Firdaus mengatakan, pihaknya memiliki catatan khusus terkait kepemimpinan Prasetyo sebagai Jaksa Agung. Termasuk, mengenai karir anaknya, Bayu Adhinugroho Arianto tersebut.

“Rusaknya sistem manajemen dan jenjang karier jaksa akibat karier anak Prasetyo yang tidak mengacu pada aturan yang berlaku,” ungkap M.Ferdi Firdaus.

Aturan yang dimaksud adalah sertifikasi diklatpim III yang harus dimiliki jaksa sebelum dipromosikan ke jenjang eleson 3B. Nah, Bayu Adhinugroho Arianto, yang saat ini sudah menjabat Koordinator Intel di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, ternyata belum mengantungi sertifikat yang dimaksud.

Informasinya, lanjut Ferdi, Bayu yang sebelumnya berpangkat III/D itu, diangkat menjadi Koordinator berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung No. Kep-IV-360/C/05/2015. “Itu artinya Bayu harus punya prestasi luar biasa. Persoalannya apa prestasinya sampai dia bisa mendapatkan promosi dengan cara melanggar aturan?” kata Ferdi.

Ditegaskannya, penerbitan SK Jaksa Agung terkait promosi Bayu menjadi bukti bahwa Prasetyo tidak dapat melepaskan diri dari konflik kepentingan. Intinya, Prasetyo telah dengan sengaja melakukan KKN. “Tidak heran nilai kinerja Kejaksaan terburuk dari seluruh kementerian,” tegas Ferdi Firdaus.

Makin berat saja kesalahan HM Prasetyo. Kenapa Presiden Jokowi begitu sulitnya me-reshuffle dia? Hmmm!