SHARE

Tegal – PT PLN (Persero) membidik pelanggan rumah tangga di daerah Jawa Tengah (Jateng) serta Yogyakarta yang memakai listrik prabayar atau Listrik Pandai dapat jadi bertambah 444. 918 pelanggan pada 2017 ini. Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari pelanggan dengan memakai listrik pra bayar.

Deputi Manajer Komunikasi serta Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jateng-DIY, Hadian Sakti Laksana menyebutkan, sekarang ini dari keseluruhan beberapa 9. 684. 785 pelanggan rumah tangga di Jateng-DIY, sejumlah 3. 067. 610 pelanggan telah memakai listrik pandai.

“Secara keseluruhan jumlah pelanggan PLN di Jateng-DIY ada 10, 44 juta pelanggan di mana sekitaran 92, 7 % adalah pelanggan rumah tangga. Dari jumlah itu, 31, 6 % pelanggan rumah tangga telah berpindah memakai listrik Prabayar, ” ucap Hadian Sakti Laksana, seperti ditulis, Selasa (11/7/2017).

Semakin tingginya pemakai listrik pra bayar, lanjutnya, sudah tunjukkan bila orang-orang pelanggan listrik semakin sadar juga akan keuntungan-keuntungan yang juga akan didapat.

Keuntungan dari penggunaan listrik pra bayar atau listrik pandai diantaranya pelanggan terlepas dari kekeliruan pembacaan mtr. serta denda cost keterlambatan bila terlambat isi.

“Kalau gunakan listrik pandai, pulsa habis serta tidak selekasnya di isi, jadi automatis listrik tidak menyala, namun tidak dipakai denda cost keterlambatan seperti listrik konvensional, ” dia memberikan.

Ditambahkan, keuntungan yang lain yaitu tak ada cost abonemen serta pelanggan PLN juga terlepas dari uang jaminan berlangganan. “Jumlah token listrik yang terisi juga tidak berbatas saat, serta tidak sempat kadaluwarsa, ” tuturnya.

Berkaitan cost token listrik, Sakti menyatakan, dalam tiap-tiap pembeliannya pelanggan cuma dipakai cost Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU) maximum 8 sampai 9 % dari nilai pembeliannya.

” Cost PPJU ini dipakai untuk semua pelanggan listrik termasuk juga pelanggan listrik paska bayar. Di tiap-tiap daerah juga tidak sama besarnya sesuai sama Perda semasing Kota atau Kabupaten, ” katanya.

Diluar itu, dikenai cost materai Rp 3. 000 per transaksi untuk tiap-tiap pembelian token diatas Rp 250 ribu. Untuk cost administrasi juga bervariatif dengan maksimum Rp 3. 000, bergantung semasing bank.

“Dari sisa potongan bebrapa cost itu dalam tiap-tiap transaksi rupiah, lalu dibagi dengan cost per 1 kwh, ” terangnya.

Dicontohkan, bila seseorang pelanggan PLN dengan daya 1300 VA beli token listrik sejumlah Rp100. 000, jadi dari nilai itu juga akan dipotong 8 % untuk cost PPJU sebesar Rp8. 000. Setelah itu bekasnya Rp92. 000 juga akan dipotong cost administrasi Rp3. 000, dengan sisa Rp 89 ribu

“Dari sisa Rp 89. 000 itu, lalu dibagi cost per kWH untuk pelanggan 1300 VA sebesar Rp 1. 467, 28. Dari hasil perhitungan itu baru keluar jumlah listrik yang tercantum di meteran, ” kata dia.