SHARE

KASUS dugaan pelanggaran etik yang dituduhkan kepada ketua DPR Setya Novanto, terkait permintaan saham Freeport Indonesia, adalah pengalihan dari konspirasi besar antara menteri ESDM Sudirman Said dan Presdir PT FI Maroef Syamsuddin.

Akar permasalahan dari kasus ini adalah agresifitas Freeport Indonesia untuk melakukan pembahasan perpanjangan kontrak karyanya sebelum tahun 2019, seperti sudah disepakati sebelumnya.

Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin memang sudah lama berteman. Keduanya bahkan pernah sama-sama berkunjung ke markas Freeport di Timika, Papua, pada pertengahan Oktober 2014. Itu berarti sebelum Sudirman Said dipilih oleh Presiden Joko Widodo masuk dalam kabinet kerjanya, di medio Oktober. Juga sebelum Maroef Syamsuddin ditetapkan sebagai Presdir Freeport Indonesia, pada 7 Januari 2015.

Ada sebuah foto yang menunjukkan kemesraan Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin saat berada di Tembagapura, Timika, itu. Dalam foto itu juga tampak kakak kandung Maroef Syamsuddin, yakni Sjafrie Syamsuddin, mantan Pangdam Jaya dan terakhir purnatugas sebagai wakil menteri pertahanan di era kedua pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kakak beradik Sjafrie dan Maroef Syamsuddin sama-sama berkarir di militer, Sjafrie di AD, sedangkan Maroef di AU. Sjafrie mengakhiri karir kemiliterannya dengan bintang tiga (Letjen), sementara Mareof bintang dua (Marsda). Namun, apakah di dada mereka masih membara semangat ‘Merah Putih’?

Fakta lain yang mendukung persohiban kental Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin adalah bahwa keduanya sudah lama menjadi binaan Jusuf Kalla. Sinar terang makin menyidari keduanya setelah JK menjadi Wapres. Pamor keduanya pun semakin naik.

Sayang keduanya sulit menahan godaan nafsu kekuasaan dan keserakahan materi. Mereka justru tergelincir. Kerjasama mereka untuk menjatuhkan ketua DPR Setya Novanto dan sekaligus menjebak pengusaha Riza Chalid membuat keduanya sangat mungkin berurusan dengan hukum. Atau setidaknya diganjar opini dahsyat masyarakat.

Sulit dipungkiri bahwa Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin memang berkolaborasi untuk menjatuhkan Setya Novanto dan menjebak Riza Chalid. Maroef Syamsuddin selalu melaporkan langkah-langkahnya dalam proses bisa dilakukannya pembahasan perpanjangan kontrak karya Freeport kepada menteri ESDM itu.

Sudirman Said mengetahui adanya tiga pertemuan antara Maroef Syamsuddin dengan Setya Novanto. Menteri ESDM juga dilapori bahwa pengusaha Riza Chalid baru ikut pada pertemuan kedua. Bisa saja Sudirman Said berbohong bahwa dia tidak tahu kalau Maroef Syamsuddin akan menyadap percakapannya di pertemuan ketiga.

Untuk berjaga-jaga, kata Maroef Syamsuddin, seperti ditirukan Sudirman Said saat memberi kesaksiannya di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan. Tetapi, Sudirman Said akhirnya mengakui bahwa ia memang diberikan rekaman hasil penyadapan Maroef Syamsuddin tersebut.

Rekaman ilegal yang diperoleh dari Maroef Syamsuddin itu oleh Sudirman Said kemudian diedit, dan diserahkan ke MKD. Rekaman editan itu durasinya hanya sekitar 12 menit, jauh dari durasi sadapan asli sepanjang 90 menit.

“Yang saya perlukan memang yang ada kaitannya dengan permintaan saham Freeport saja,” kata Sudirman Said, di sidang MKD.

Melalui editan rekaman ilegal itulah Sudirman Said berupaya menjatuhkan Setya Novanto, hanya karena ketua DPR sejak awal bersikap tidak memberi hati kepada Freeport dan menolak dilakukannya pembahasan perpanjangan kontraksebelum 2019.

Kini Sudirman Said yang harus menghadapi cercaan dari masyarakat, sementara Setya Novanto juga mengadukannya ke Bareskrim Mabes Polri dengan tuduhan melakukan tindakan pencemaran nama baik