SHARE

Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia, ditengarai berperan besar dalam kisruh Freeport akhir-akhir ini. JK, yang juga dikenal sebagai “Darmawangsa” seperti disebut-sebut dalam rekaman illegal Maroef Syamsudin, memiliki gurita bisnis yang selalu bersinggungan dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut.

Pada medio September  2014, Kalla Group, salah satu grup bisnis yang dimiliki oleh Jusuf Kalla, sudah bermain api dengan urusan smelter. PT Indosmelt yang akan melanjutkan proyek pembangunan pabrik pemurnian (smelter) tembaga batangan senilai 1 miliar dollar AS, mengklaim sudah memiliki kesepakatan dengan Kalla Group untuk turut serta dalam pengelolaan pabrik yang dibangun di Maros, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, pembangunan smelter milik Indosmelt terancam gagal lantaran PT Freeport Indonesia sebagai pemasok konsentrat tembaga malah membangun smelter sendiri. Meski begitu, Presiden Direktur Freeport, kala itu, Rozik B. Soetjipto pernah menyebut, produksi konsentrat Freeport pada 2021 sampai 2041 akan meningkat terus seiring dengan beroperasinya seluruh tambang bawah tanah.

Untuk itu, diperlukan smelter-smelter baru, termasuk milik Indosmelt, guna menampung konsentrat yang diproduksi Freeport. Maklum, mulai 12 Januari 2017, produksi konsentrat tembaga Freeport harus diolah di dalam negeri.

Natsir Mansur, Direktur Utama Indosmelt, menyatakan, pihaknya memang akan tetap berkomitmen untuk membangun smelter bersama dengan manajemen Kalla Group untuk turut berinvestasi di Indosmelt.

Seperti kita ketahui, Indosmelt berencana membangun smelter dengan kapasitas bahan baku 500.000 ton konsentrat per tahun, dan kapasitas produksi copper cathode sebesar 120.000 ton per tahun. Untuk membangun smelter, Indosmelt akan menyiapkan dana 1 miliar dollar AS.

Selain kebutuhan investasi yang tinggi, smelter tersebut juga membutuhkan pasokan listrik sekitar 100 megawatt (MW), sedangkan Kalla Group merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam penyediaan listrik. Jadi bisa dibilang, semua bisnis menyangkut smelter yang akan dibangun di Maros, Sulawesi, Kalla Group sangat berkepentingan.

Kalla Group, tentunya akan menjadi suku usaha yang sangat dirugikan jika Kontrak karya Freeport tidak diperpanjang. Kalla Group, bahkan menginginkan agar kontrak karya itu dipercepat sebelum tahun 2019, atau saat Jusuf Kalla masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Posisi Wapres tersebut tentu akan sangat menguntungkan bagi Jusuf Kalla dan Kalla Group untuk mempengaruhi segala sesuatu menyangkut kontrak tersebut.

Tak heran jika Jusuf Kalla, sudah memasang kuda-kuda dengan menempatkan banyak orang-orangnya di posisi penting termasuk Menteri ESDM yang dipegang oleh Sudirman Said yang dikenal sebagai “antek Kalla”.

Bukan saja soal smelter yang akan dibangun oleh Indosmelt, namun juga pembangunan PLTA di Papua guna mensuplai listrik bagi tambang bawah tanah Freeport.