SHARE

Jakarta – Seseorang dosen dan insinyur tehnik sipil, Indrawan Sastronagoro menuntut UU Daya karna dinilai UU itu syirik serta menyekutukan Allah SWT. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) menampik semua alasan Indrawan. Bagaimana ceritanya?

Masalah berawal waktu Indrawan waktu menuntut UU Nomor 30 Th. 2007 mengenai Daya. Satu diantaranya Pasal 1 angka 4 yang berbunyi :

Sumber daya baru yaitu sumber daya yang bisa dibuat oleh tehnologi baru baik yang datang dari sumber daya paling barukan ataupun sumber daya tidak paling barukan, diantaranya nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), batubara tercairkan (liquified coal) serta batu bara tergaskan (gasified coal).

Menurut Indrawan, pasal diatas sudah merugikan hak konstitusional pemohon, karna bertentangan dengan Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi :

Negara Berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Indrawan, cuma Tuhan yang dapat membuat sumber daya paling barukan.

” Pasal 1, angka 4 itu tunjukkan bila menyekutukan Tuhan atau syirik. Karna yang memakai tehnologi baru yaitu manusia, bukanlah hewan, bermakna manusia dengan tehnologi baru dapat hasilkan sumber daya baru, jadi sama pandai, menyamakan Tuhan Yang Maha Esa. Berikut yang dimaksud syirik, karna dalam agama Islam. Tak ada yang menyamakan Tuhan Yang Maha Esa, ” tutur Indrawan seperti diambil dari putusan MK di websitenya, Selasa (11/7/2017).

Indrawan mengakui alami kerugian materil dengan terdapatnya pasal diatas. Yakni mengakibatkan produktivitas kerja pemohon alami penurunan karna bekerja dengan fikiran tidak tenang, kacau, gundah. Umpamanya pada keadaan normal, dapat bekerja dengan fikiran tenang, satu bulan mengajar 60 jam kuliah, karna fikiran kurang tenang, hati terasa tersinggung, satu bulan cuma 40 jam kuliah.

” Karna Pasal 1 angka 4 UU No 30 Th. 2007 mengenai Daya tunjukkan menyekutukan Tuhan atau Syirik
bermakna merendahkan agama Islam yang yaitu agama pemohon. Jadi tak ada daya baru serta sumber daya baru. Semuanya telah disiapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, maha Pencipta. Tak ada yang kurang tak ada yang kelupaan hingga kiamat. Jadi pemohon yang beragama Islam dirugikan dari sisi iman serta kepercayaan, ” tutur Indrawan yang lahir pada 15 Juli 1936 itu.

Tetapi permintaan itu tidak diterima MK. Mahkamah memiliki pendapat untuk mengerti maksud satu ketetapan dalam satu Undang-Undang, sebaiknya dengan systematis di baca juga beberapa ketetapan beda dalam UU itu.

” Pembacaan dengan systematis yang dikerjakan Mahkamah pada UU 30/2007 tidak temukan tanda-tanda apapun kalau UU a quo sudah menyekutukan Allah SWT lewat rumusan Pasal 1 angka 4, angka 5, serta angka 6, ” tutur majelis MK yang dibacakan pada Senin (10/7) tempo hari.

MK memiliki pendapat, pengertian ‘sumber daya paling barukan’ yang dirumuskan oleh pembentuk undang-undang sudah begitu terang, yakni segalanya di alam yang dapat hasilkan daya serta (relatif) akan tidak sempat habis. Dicontohkan dalam Pasal 1 angka 6 UU Daya kalau ‘sumber daya paling barukan’ diantaranya panas bumi, angin, gerak terjun air, serta cahaya matahari.

” Sebagian contoh itu, tanpa ada butuh dijelaskan atau dirumuskan dengan spesial dalam Undang-Undang, sudah disadari serta jadi pengetahuan dengan jadi ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut penilaian Mahkamah pada Pasal 1 angka 6 UU Daya, tak ada sedikit juga tanda-tanda kalau rumusan a quo ditujukan atau tunjukkan satu penyekutuan pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa seperti didalilkan oleh Pemohon, ” tutur MK.

Atas pertimbangan diatas, jadi 8 hakim konstitusi yakni Arief Hidayat, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, I Dewa Gede Palguna, Suhartoyo, Maria Farida Indrati, Manahan MP Sitompul, serta Saldi Isra menampik permintaan Indrawan.

” Menampik permintaan Pemohon untuk semuanya, ” ucap majelis dengan nada bulat.