SHARE

Komisi Pemberantasan Korupsi dituntut untuk menjelaskan secara terbuka ke publik mengapa kasus dugaan korupsi pada pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang demikian lambat penyelesaiannya.

Sikap transparansi dari pimpinan lembaga antirasuah ini tentunya ditunggu masyarakat luas mengingat adanya kesan bahwa penuntasan kasus tersebut sengaja ditunda-tunda.

Amat disayangkan jika KPK masih mempertahankan perilaku tebang-pilih dalam penyelesaian kasus-kasus megakorupsi.

Upaya penyelesaian kasus dugaan korupsi pada proyek P3SON Hambalang baru dibuka kembali hari ini, Senin (10/4), melalui persidangan dengan terdakwa Andi Zulkarnaen Mallarangeng di PN Tipikor Jakarta.

choelis
Choel Mallarangeng, sudah buka-bukaan, ingin kasus Hambalang dituntaskan segera

Persidangan Choel, panggilan dari adik kandung Andi Alfian Mallarangeng itu, mantan jubir Presiden SBY dan Menpora, dilakukan bersamaan dengan persidangan ke-8 kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri.

Mungkin karena tidak adanya saksi yang dianggap seksi pada sidang lanjutan kasus e-KTP, maka sidang Choel Mallarangeng memperoleh atensi luar biasa dari pers. Bisa jadi pula karena ini sidang perdana Choel.

Pada kasus dugaan korupsi proyek P3SON yang memakai keuangan negara 2010-2012 ini Choel sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 21 Desember 2015. Namun, Choel baru menjalani pemeriksaan di KPK pada 5 Februari 2016.

Dan, baru 10 April ini proses persidangannya digelar.

jpu
Tim JPU KPK pada persidangan Choel Mallarangeng

Dalam kasus ini KPK mendakwa Choel telah memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi.

Choel dan kakaknya, Andi Alfian Mallarangeng, mendapat uang Rp4 miliar dan 550 ribu dolar AS.

Selain itu, Choel juga didakwa memperkaya orang lain seperti Wafid Muharam, Deddy Kusnidar, Anas Urbaningum, Mahyudin, Teuku Bagus Mokhamad, Machfud Suroso, Joyo Winoto, Lisa Lukitawati, Anggraheni Dewi, beberapa korporasi termasuk PT Yodya Karya, dan Olly Dondokambey.

Baca Juga  Olly Dondokambey: Jangan Suka-sukanya KPK

Jaksa menyebut kasus proyek P3SON Hambalang merugikan negara Rp464,391 miliar menurut audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 29 Januari 2014.

hambalangku
Proyek P3SON Hambalang yang terbengkalai

Dalam persidangan itu Choel didakwa melakukan pelanggaran berlapis, yaitu UU No 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Choel tidak membantah tuduhan yang dijatuhkan jaksa KPK. Ia juga meminta maaf atas apa yang ia lakukan.

“Saya mengerti sepenuhnya apa yang didakwakan dan baru saja dibacakan untuk saya. Jauh sebelum saya ditetapkan jadi tersangka atau dipanggil oleh KPK, saya sudah melakukan konfrensi pers mengakui telah menerima uang sejumlah Rp2 milyar rupiah dan 550 ribu USD. Bahkan tanpa dimintapun saya sudah kembalikan dana itu, sejak tahun 2013. Walaupun setahu saya uang itu bukan berasal dari keuangan negara,” kata Choel dalam persidangan di PN Jakarta Pusat, Senin (10/4).

Sebagian besar dari nama-nama yang diterakan dalam dakwaan terhadap Choel sudah ditangkap dan dipenjarakan oleh KPK. Sementara, diantara beberapa nama yang masih belum turut dipersangkakan dan terus menolak keterlibatannya adalah Olly Dondokambey, mantan anggota dewan yang kini Gubernur Sulut.

kuik
Andi Alfian Mallarangeng harus mendekam di penjara karena membiarkan kejahatan adiknya, Choel Mallarangeng

Olly Dondokambey juga diduga terlibat dalam kasus e-KTP, meski juga dibantahnya mati-matian.

Dugaan keterlibatan Olly Dondokambey pada proyek P3SON Hambalang sudah diungkap Choel saat diperiksa KPK, Februari lampau.

Katanya, ada oknum yang kini menjabat sebagai gubernur diduga turut menerima aliran dana suap Hambalang.

Oknum tersebut diduga Olly Dondokambey yang kini menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara. Saat hal tersebut dipertegas kepada Choel, adik dari Mantan Menpora Andi Mallarangeng ini tak menampik juga tak mengamini.

Baca Juga  Nazaruddin Heran Olly Dondokambey Masih Aman-Aman Saja, Meski Terima Duit Korupsi

“Ya, kalian sudah tahu sendiri, siapa orangnya. Sudah jelas semua itu. Saya kira Anda sudah mengikuti Hambalang selama lima tahun kan?. Sudah tahu daftar-daftar siapa, nama di dakwaan‎, bukti yang sudah terbuka di persidangan ya, sudah jelas,” kata Choel Mallarangeng.

udinik
Mantan bendahara umum partai Demokrat Mohammad Nazaruddin dalam kesaksiannya di kasus Hambalang juga terus membuka aib Olly Dondokambey

Nama Olly sendiri sudah beberapa muncul dalam persidangan kasus Hambalang ini. Olly yang saat kasus ini terbongkar merupakan Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR ini diduga turut serta menyetujui lonjakan anggaran proyek ini sampai Rp 2,5 trilliun.

Dugaan keterlibatan Olly dalam kasus tersebut mencuat dalam surat dakwaan para tersangka kasus P3SON Hambalang. Dalam amar putusan 2 terdakwa Deddy Kusdinar dan Teuku Bagus Mohammad Noor disebutkan bahwa Olly terbukti menerima uang Rp 2,5 miliar dari proyek P3SON.

“Dalam proses pembangunan proyek P3SON Hambalang, terdakwa telah menyuap Olly Dondokambey yang merupakan anggota Banggar DPR sebesar Rp 2,5 miliar,” kata hakim anggota Sinung Hermawan saat membacakan vonis Teuku Bagus di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta, Selasa 8 Juli 2014.

Olly membantah dakwaan terdakwa Hambalang yang menyebutkan dia menerima uang suap Rp 2,5 miliar. “Saya tidak pernah menerima suap,” ujar Olly di Gedung KPK, Jakarta, Jumat 11 Juli 2014.