SHARE
Setya Novanto
Setya Novanto

Drama perpecahan Fraksi Partai Golkar meramaikan DPR setelah Setya Novanto yang mundur dari kursi Ketua DPR didaulat jadi Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR. Setya Novanto yang kemudian merombak jajaran FPG DPR sempat jadi bulan-bulanan kritik mereka yang tak terima digeser. Namun begitulah politik, ‘musim panas’ berlalu begitu cepat dan berubah menjadi sejuk.

Episode demi episode perpecahan Fraksi Partai Golkar DPR bergulir setelah Setya Novanto merombak jajaran FPG DPR. Tak main-main, Novanto langsung “mencopot” Bambang Soesatyo dari kursi Sekretaris FPG DPR, juga menempatkan orang dekatnya yakni Kahar Muzakir sebagai Ketua Banggar DPR menggantikan Waketum Golkar Munas Bali, Ahmadi Noor Supit.

Dua nama yang digeser tak terima, politik internal FPG DPR makin memanas. Tak sedikit yang menyebut Golkar semakin runyam. Bambang dengan lantang bahkan sempat melontarkan sindiran kepada Setya Novanto yang baginya belum sah jadi Ketua FPG DPR.

“Sampai saat ini Ade Komarudin masih Ketua Fraksi dan belum ada SK pergantian dari Ketua DPR. Kalau sudah ada SK dan ditetapkan di paripurna baru boleh buat surat apa pun atas nama ketua fraksi,” begitu antara lain dikemukakan Bamsoet, 7 Januari lalu.

Tanpa rasa takut, Bamsoet juga melontarkan sindirkan ke Setya Novanto. “Kurang elok di mata masyarakat. Tampak betul sudah nggak sabaran. Jangan-jangan nanti ada istilah baru, papa nggak sabaran,” kecam Bamsoet.

Tak hanya Bambang, Ahmadi Noor Supit juga melawan pergeseran posisinya itu. Supit menyebut Setya Novanto sudah menempatkan orang-orang dekatnya di posisi penting. Supit bahkan menyebut dengan istilah “geng”, tentu saja cukup keras untuk saudara separtai. Sampai-sampai muncul rumor soal pertarungan Kosgoro dan Soksi di internal FPG.

“Semuanya digantikan oleh Geng Novanto. Saya digantikan oleh Kahar Muzakir, ini sangat politis, ” begitu antara lain dilontarkan Supit, 6 Januari lalu.

Singkat cerita, ternyata Novanto ‘bijaksana’ menempatkan kedua orang itu di posisi strategis. Bamsoet ditempatkan di Ketua Komisi III DPR, sementara Ahmadi Noor Supit ditempatkan di Ketua Komisi XI DPR. Musim panas seperti yang semula diceritakan pun berubah jadi musim semi yang penuh kesejukan. Tak ada lagi aroma perlawanan kepada Setya Novanto.

“Itu kan biasa, rotasi itu biasa. Karena itu saya kira kalau ditugaskan sebagai anggota atau pimpinan ya biasa. Sekarang ada penugasan di XI, saya harus terima,” ucap Supit, seusai dilantik sebagai Ketua Komisi XI DPR, Senin (25/1) kemarin.

Demikian pula dengan Bamsoet. Ia menegaskan, dirinya siap menempati posisi strategis itu. “Saya kira itu biasa ya di DPR. Background itu bisa ke mana saja. Saya sudah enam tahun di Komisi III. Secara filosofis, ini boleh diperdebatkan. Intinya saya enggak masalah dan bisa,” kata Bamsoet, Senin di gedung Parlemen.