SHARE

Pengungkapan kasus Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) tentunya tak hanya menjadi tugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hal itu mestinya juga menjadi tanggung-jawab dari lembaga penegak hukum lainnya, yakni Kepolisian dan Kejaksaan Agung.

Apalagi beberapa waktu lalu sudah ada kesepakatan untuk peningkatan kerjasama dan sinergitas diantara ketiga institusi penegak hukum tersebut.

Dan, rupanya Jaksa Agung HM Prasetyo terus mencermati perjalanan kasus SKL BLBI ini.

Saat dikonfirmasi media mengenai kemungkinan adanya perkembangan pemeriksaan dari kasus SKL BLBI tersebut, Jaksa Agung HM Prasetto mengatakan bahwa pihaknya juga masih terus memburu para koruptor kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

“Iya, itu sudah pasti. Kejaksaan akan terus memburunya,” kata HM Prasetyo, Minggu (30/4) malam.

“Sudah pasti kami juga bekerjasama dengan KPK, komunikasinya jalan terus,” ujar jaksa agung.

Sekadar mengingatkan, pada 17 Oktober 2006 silam, Kejaksaan Agung secara resmi menyebarkan 14 wajah koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

jakgung
Jaksa Agung HM.Prasetyo

Mereka adalah, Sudjiono Timan (Dirut PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI)), Eko Edi Putranto (Direksi Bank Harapan Sentosa (BHS), Samadikun Hartono (Presdir Bank Modern), Lesmana Basuki (Kasus BLBI), Sherny Kojongian (Direksi BHS), Hendro Bambang Sumantri (Kasus BLBI), Eddy Djunaedi (Kasus BLBI), Ede Utoyo (Kasus BLBI).

Selanjutnya, Toni Suherman (Kasus BLBI), Bambang Sutrisno (Wadirut Bank Surya), Andrian Kiki Ariawan (Direksi Bank Surya), Harry Mattalata alias Hariram Ramchmand Melwani (Kasus BLBI), Nader Taher (Dirut PT Siak Zamrud Pusako), dan Dharmono K Lawi (Kasus BLBI).

Dari ke-14 nama tersebut, sebagian telah berhasil dibawa pulang ke tanah air. Diantaranya, Sherny Kojongian, yang ditangkap pihak Interpol di San Francisco, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Inilah Gertakan KPK Soal Bukti-Bukti Baru Kasus e-KTP

Kemudian Adrian Kiki Ariawan yang juga telah dipulangkan ke Indonesia setelah High Court Australia mengabulkan permohonan ekstradisi yang diajukan Indonesia pada 18 Desember 2013.

Permohonan itu diajukan pada 28 September 2005, berdasarkan surat bernomor M.IL.01.02-02.

sama
Setelah buron selama 13 tahun, Samadikun Hartono dibawa kembali ke Indonesia pada 24 April 2016. Proses penangkapannya di China melibatkan BIN yang waktu itu dipimpin Sutiyoso.

Terakhir, Samadikun Hartono yang berhasil dibawa kembali ke Indonesia setelah sekian tahun tinggal China.

Terkait Samadikun Hartono ini ada isu bahwa dia sebenarnya bukan ditangkap tetapi menyerahkan diri. Namun, hal itu dibantah oleh HM Prasetyo.

“Ya enggak lah, kalau dia menyerahkan diri kan mestinya dari dulu dilakukan. Istilah kita penjajakan ya namanya pemantauan, buronan kita masih banyak di luar negeri,” terangnya.

Untuk diketahui, Samadikun Hartono buron selama 13 tahun. Mantan pemilik Bank Modern itu telah divonis bersalah dalam kasus penyalahgunaan dana talangan BLBI senilai sekitar Rp2,5 triliun yang digelontorkan kepada Bank Modern menyusul krisis finansial 1998.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tertanggal 28 Mei 2003, Samadikun Hartono dihukum empat tahun penjara.