SHARE

Maroef Syamsoeddin mengundurkan diri sebagai Presdir PT Freeport Indonesia sejak Senin (18/1) lalu, Pengunduran dirinya mengundang polemik dan kontroversi mengingat hal itu dilakukannya sebelum rampungnya permasalahan terkait divestasi (penawaran) saham dari PT FI ke pemerintah.

Pada 13 Januari lalu, sehari sebelum tenggat waktu (deadline) penyerahan divestasi tersebut, PT PI resmi menyampaikan penawaran harga sahamnya. Yakni, senilai USD 1,7 miliar dari 10 persen saham, dengan perhitungan nilai 100 persen saham PT FI saat ini adalah USD 16,2 miliar.

Menyusul penawaran 10 persen saham PT FI tersebut, polemik pun bertebaran. Ada yang menilai harga tersebut kemahalan, dikaitkan dengan turunnya harga saham Freeport di tingkat global. Tetapi, ada pula yang menyebutnya, sudah pas, atau bahkan terbilang murah. Dari kategor terakhir itu, termasuk yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio.

Kata Tito, harga saham PT Freeport Indonesia yang ditawarkan ke pemerintah sebesar USD1,7 miliar tergolong murah. Nilai yang ditawarkan perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut murah karena masih banyak perusahaan lain dengan angka kapitalisasi pasar lebih besar.

Mari kita lihat, USD1,75 miliar itu artinya market cap USD17 miliar. Banyak perusahaan di Indonesia, market cap-nya lebih dari itu,” ujar Tito, Selasa (19/1). Dia mengungkapkan, banyak perusahaan BUMN yang meraih keuntungan lebih dari Freeport.

“Untung BRI itu dua kali lebih besar dari untung Freeport Indonesia. Jadi lihat data yang ada, Pertamina untungnya empat kali lipat dari Freeport, banyak yang lebih menarik di Indonesia,” katanya. Selain itu, kata Tito, lahan Freeport di Papua juga sudah semakin tergerus hingga hanya tinggal 90 ribu hektare.”