SHARE

SUDAH lama Jaksa Agung H.M.Prasetyo disebut-sebut dalam jajaran pembantu presiden yang akan diganti. Kinerja kader Partai Nasdem pimpinan Suryadharma Paloh ini jauh dari kinclong. Namun, Prasetyo selamat dari badai reshufle jilid-1 yang dilakukan Presiden Jokowi. Nasibnya masih lebih baik dari kader Nasdem lainnya, Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, yang digantikan oleh Luhut Binsar Pandjaitan.

Ketika isu reshufle jilid-2 dikumandangkan nama Prasetyo kembali disebut-sebut sebagai salah satu petinggi legislatif yang bakal tergusur. Popularitasnya makin anjlok saat dia menarik kembali penugasan korps Adhyaksa yang di perbantukan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Termasuk adalah jaksa yang mengadili dan memutuskan kesalahan Patrice Rio Cappella, sekjen Partai Nasdem, karena keterkaitannya dengan kasus korupsi bancakan dana bansos Pemprov Sumut.

Patrice Rio Cappela disebut-sebut menerima Rp 200 jutaa dari istri gubernur Sumut, Gatot Pudjo Nugroho, sebagai tanda terimakasih untuk kesediaanya membicarakan kasus tersebut dengan Jaksa Agung H.M.Prasetyo. Nama Surya Paloh juga turut terseret, karena pernah memediasi pertemuan mereka di kantor Partai Nasdem. Layak diketahui, H.Nuradi yang Wagub Sumut adalah kader Nasdem.

Nama Surya Paloh terbawa-bawa dalam kasus korupsi bancakan dana bansos Pemprov Sumut ini. Dia menjadi salah satu saksi. Surya Paloh pernah berininsiatif mendadatangi kantor KPK, mendahului waktu pemanggilannya. Namun, ketika saatnya diminta keterangan, Surya Paloh justru mangkir. Dia dua kali melakukan pemangkiran.

Keengganan Surya Paloh mendatangi KPK bersamaan dengan makin menggelindingnya kasus dugaan pelanggaraan etik yang dilakukan oleh ketua DPR Setya Novanto, dari pertemuannya dengan Dirut Freeport Maroef Syamsuddin. Saluran televisi milik Surya Paloh, Metro Tv, habis-habisan menggejot pemberitaan mengenai transkip dan rekaman ilegal yang dilakukan oleh Maroef Syamsuddin dan disidtribusikan oleh menteri ESDM Sudirman Said itu, sejak awal November.

Metro Tv yang semula menggenjot habis-habisan masalah dugaan korupsi atau penyalah-gunaan dana bansos di berbagai daerah, mengalihkan pemberitaannya ke kasus dugaan pelanggaraan etik tersebut. Kentara sekali kalau Metro Tv punya target tertentu dari beragam pemberitaan yang disampaikannya. Target pertama, menjatuhkan ketua DPR Setya Novanto. Kedua, melindungi kepentingan Freeport di Indonesia.

Sudah gencar disampaikan ke masyarakat kalau Surya Paloh memang memiliki hubungan dengan Freeport Indonesia. Jejaring bisnis Surya Paloh ternyata sampai ke Timika, markas Freeport. Penyediaan katering seluruh pimpinan dan karyawan Freeport disuplai oleh perusahaan katering milik Surya Paloh, yakni Indocater. Sekadar mengingatkan, Dirut Metro tv kini dijabat oleh Adrianto Machribie, yang sebelumnya menjabat Dirut Freeport.Maroef Syamsuddin sendiri baru medio Januari 2015 menjadi Dirut Freeport.

Kuat dugaan jika Maroef Syamsuddin juga berhubungan dengan Surya Paloh, mungkin untuk diminta bantuannya dalam permasalahan yang terkait dengan perpanjangan izin operasi atau kontrak karya Freeport di Indonesia. Walau demikian, bisa jadi korelasi antara Maroef Syamsuddin dengan Surya Paloh baru intensif menyusul dipublikasikannya transkip dan hasil sadapan rekaman percakapan itu oleh Sudirman Said pada awal November. Pada saat itu Surya Paloh tak lagi cawe-cawe berbicara dalam kasus korupsi bancakan dana bansos Sumut, demikian juga dengan menurunnya laporan Metro Tv.

Adalah Surya Paloh yang meminta agar kejaksaan agung turut mendalami kasus dugaan pelanggaraan etik dari hasil sadapan pembicaraan Maroef Syamsuddin itu. Tak lama setelah itu, Jaksa Agung HM Prasetyo mengeluarkan pernyataan bahwa korps Adhayaksa segera mendalami kemungkinan adanya permufakatan jahat dari pertemuan tersebut.

Surya Paloh agaknya tidak atau kurang percaya dengan penyelesaian yang akan diambil oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dalam menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik tersebut. Hasil sadapan memang tidak bisa dijadikan barang bukti yang sah di mata hukum, apalagi bukti-bukti yang diserahkan Sudirman Said belum diverifikasi. Surya Paloh karenanya mendesak Prasetyo untuk bergerak cepat, jangan sampai didahului oleh MKD.

Lalu, mungkinkah Surya Paloh atau HM Prasetyo sendiri yang menyarankan kepada Maroef Syamsuddin agar menyimpan bukti otentik berupa telepon seluler merek Samsung yang dipakainya untuk merekam percakapan itu di kejaksaaan?

Hanya mereka dan Tuhan yang tahu!@@@