SHARE

Pertempuran yang berlangsung di Marawi sudah mengoyak keindahan kota yang ada di jantung Mindanao, satu diantara pulau besar di Filipina selatan itu.

” Marawi yaitu jantung untuk Mindanao. Di Marawi ada tugu 0 km. sebagai referensi untuk kota beda di Mindanao, ” kata Monalisa Pangan, warga Cagayan de Oro, kota pantai yang berjarak lebih kurang 89 km. dari Marawi, seperti dilaporkan harian Kompas, Selasa (11/7/2017).

Marawi terdapat di lembah perbukitan serta ada pas di pinggir Danau Lanao. Udaranya sejuk karna ada pada ketinggian lebih kurang 200 mtr. diatas permukaan laut.

Bukit-bukit di sekitaran Danau Lanao penuh ditumbuhi beragam pohon rimba, serta dibagian pinggir digunakan warga untuk berkebun serta menanam padi, sekian dilaporkan wartawan harian Kompas, B Josie Susilo Hardianto serta Harry Susilo, dari Marawi.

Di dalam kota itu mengalir satu sungai bernama Sungai Agus. Airnya yang bersumber dari Danau Lanao mengalir deras serta digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik.

Jadi ibu kota Propinsi Lanao del Sur, Marawi yaitu pusat ekonomi, layanan, serta perdagangan untuk kota-kota kecil beda yang ada di sekitaran Danau Lanao, seperti Balindong, Ramain, serta Saguiaran.

Di Marawi ada satu kampus negeri, yakni Kampus Negeri Mindanao. Keberadaannya lengkapi kelebihan Marawi sebagai pusat untuk kota-kota beda di sekelilingnya.

Untuk kota-kota itu, Marawi tidak gantinya satu gerbang. Marawi juga pintu paling utama yang menghubungkan mereka dengan kota-kota beda di pesisir utara Mindanao.

Satu jalan paling utama selebar lebih kurang delapan mtr. dengan konstruksi beton dibuat untuk menghubungkan Marawi dengan Iligan, satu kota perdagangan serta layanan, yang ada di pesisir utara Mindanao. Jarak ke-2 kota itu lebih kurang 38 km..

Beragam barang keperluan untuk kota-kota di lokasi pegunungan yang ada di dalam Mindanao beberapa dipasok lewat jalur itu.

Dari Marawi, beberapa barang itu lalu di kirim ke beberapa kota di sekelilingnya.

Tidaklah heran, saat perseteruan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) melawan milisi grup Maute meletus di Marawi, 23 Mei lantas, kota-kota beda di sekelilingnya ikut terdampak.

Kota-kota kecil itu jadi sepi. Toko serta kios tutup. Beberapa besar dari mereka ikut mengungsi.

” Banyak warga yang tinggal di sekitaran Marawi kelaparan karna mereka tidak dapat beli keperluan keseharian, seperti di Ramain, ” tutur Fatima (31), pekerja sosial asal kota Iligan yang sering mondar-mandir Marawi.