SHARE
Hotma Sitompul, kesaksiannya, tidak konsisten.

Korelasi antara pengakuan pengacara Hotma Sitompul di sidang kasus e-KTP, sangat membingunkan. Dua pekan lalu, pengacara kandang ini mengaku jika ia mengetahui bahwa Ketua DPR Setya Novanto merupakan pihak ‘pemegang’ proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP).

Hotma mengetahuinya dari salah satu bos anggota konsorsium Paulus Tannos, yang merupakan kliennya. Hal ini diungkapkan Hotma saat menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (8/5).

Namun Ia juga memberikan kesaksian lain yang berkebalikan dengan pengakuan pertama. Hotma juga mengaku pernah bertemu Setya untuk membahas permasalahan proyek e-KTP di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Hotma mengatakan, petemuan itu berawal dari permasalahan yang menimpa Paulus. Saat itu, menurutnya, Paulus yang juga kliennya sempat terlibat konflik dengan peserta tender proyek e-KTP lainnya.

“Ya memang pernah bertemu untuk menanyakan itu, tapi dia (Setya) enggak tahu apa-apa. Saya juga enggak terlalu mengerti,” kata Hotma.

Kedua jawaban Hotma ini tentu membingungkan. Di satu sisi dia memberikan kesaksian yang memberatkan Setya Novanto. Namun di sisi lain ia juga memberikan pengakuan yang meringankan Ketua DPR RI itu.

“Saya enggak tahu lagi harus nanya ke siapa, cuma dia (Setya) yang saya kenal,” ucapnya.

Kesimpulan lain dalam sidang, KPK seperti mencari-cari keterangan untuk memberatkan Setya Novanto. Misalnya soal pengakuan dari Paulus Tannos yang diambil di Singapura. Kali ini seputar pertemuan yang menurut Setnov sendiri tak pernah terjadi.

“Pertemuan itu seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa Setya Novanto mempunyai pengaruh di dalam proyek e-KTP, seolah-olah meminta komitmen (sesuatu) ‎kepada saya atau PT Sandipala Arthaputra,” kata Paulus kepada penyidik KPK seperti yang disampaikan dalam dokumen pemeriksaan.

Baca Juga  Inilah Alasan Kinerja KPK Perlu Diawasi Lembaga Khusus
Paulus Tanos,kesaksiannya hanya pendapat, bukan fakta.
Paulus Tanos,kesaksiannya hanya pendapat, bukan fakta.

Kata “seolah-olah” adalah pemahaman pribadi dari Paulus Tannos. Bahkan di sana tidak disebutkan secara gambling soal peran Setya Novanto. Oleh karena itu, hakim sewajarnya jika tidak membuat pengakuan Paulus ini sebagai sebuah kesaksian. Maklum, pernyataan Paulus merupakan pendapat pribadi yang tidak berdasarkan fakta.

Sekali lagi, dalam sidang ini KPK dan jaksa penunutut umum dalam kasus korupsi e-KTP yang melibatkan Irman dan Sugiharto, terkesan hanya mencari-cari kesalahan Setya Novanto. Padahal mereka sama sekali belum memiliki bukti tentang kesalahan Ketua DPR RI itu.