SHARE
Gank Partai Demokrat yang merampok uang negara lewat Hambalang.

Lembaga antirasuah kita, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), segera mendapatkan pendampingan dalam menjalankan misi dan perannya sebagai institusi terdepan dalam meminimalisasi atau bahkan meniadakan korupsi.

Pimpinan KPK periode 2015-2019 yang terdiri atas Agus Rahardjo (ketua), serta empat anggotanya,  Basaria Pandjaitan, Alexander Marwata, Laode Syarif, dan Saut Situmorang, sudah memperoleh lima calon penasehat KPK yang terpilih melalui seleksi ketat oleh panitia seleksi (pansel) penasehat KPK.

Pansel penasehat KPK yang terdiri atas Imam Prasodjo (ketua), dengan empat anggota, yakni Mahfud MD, Busyro Muqoddas, Sadli Isra dan Rhenald Khasali, berhasil memilih sebanyak lima calon penasehat KPK dari lebih 3000 orang yang mendaftar pada awal Februari 2017.

imam

Imam Prasodjo

Lima kandidat penasehat KPK tersebut kini menunggu diwawancarai kembali oleh Agus Rahardjo dkk. Terserah mereka, mau memilih berapa penasehat. Mengambil ke-5 nya juga tidak bertentangan dengan aturan.

Keberadaan penasehat di KPK dianggap penting untuk lebih menjaga marwah KPK yang dalam pandangan masyarakat sudah menjadi superbodi dalam penegakan hukum. Pasalnya, pimpinan KPK juga bukannya tidak tersandung masalah.

Dari beberapa kali kepengurusan KPK, ada sebagian pimpinannya yang tersandera berbagai persoalan. Disamping itu, karena merasa berada di sebuah lembaga yang seolah-olah dilindungi oleh hukum, presiden dan bahkan masyarakat, pimpinan KPK kerap mengeluarkan statemen yang menyinggung pimpinan institusi penegakan hukum lainnya, misalnya kepolisian.

Tak mengherankan jika KPK juga kerap dikritisi, pimpinannya dihujat. Wajarlah, selagi berwujud manusia atau mahluk hidup, pimpinan KPK bisa saja membuat kesalahan, pelanggaran atau kekeliruan.

kpkditangkap

Sebuah demo di kantor KPK

Oleh karena itu masyarakat pun harus selalu mengingatkan, agar KPK bisa berjalan pada track-nya, dan pimpinannya benar-benar bisa jadi panutan. Jika tidak, kantor KPK bisa lebih sering didemo, pimpinannya dicemooh atau dicaci-maki.

Itu juga yang disampaikan oleh Yenti Garnasih, salah satu anggota pansel pembentukan pimpinan KPK 2015-2019, saat mendatangani kantor KPK beberapa waktu lalu.

Seusai ditemui oleh Agus Rahardjo dkk, Yenti Garnasih mengatakan kepada media, bahwa pimpinan KPK harus lebih fokus.

Ia juga menuturkan bahwa kedatangannya ke KPK untuk menanyakan sejumlah kasus lama yang belum tuntas.

Baca Juga  Penasehat KPK Wajib Awasi Perilaku Pimpinan KPK

Ia menilai  KPK memang banyak melakukan operasi tangkap tangan (OTT), tapi belum menuntaskan perkara lama. “Jangan puas dengan banyak OTT, OTT harus dituntaskan,” tegasnya.

Yenti mengambil contoh kasus lama, yaitu Century dan Hambalang, yang masih belum jelas. Ia mendesak para pemimpin KPK untuk segera menuntaskan kasus tersebut.

panselkpkyenti

Pansel pimpinan KPK 2015-2019

Menurut dia, sebanyak 16 kali OTT pada 2016 bukan sebuah prestasi yang dibanggakan apabila tidak segera dituntaskan. Belum lagi OTT sampai tiga bulan pertama 2017 ini.

Sekadar mengingatkan, pimpinan KPK sekarang ini dipilih oleh sebuah pansel yang terdiri dari sembilan orang dan semuanya perempuan. Mereka  dari beragam latar belakang kepakaran. Mereka: Destry Damayanti (ketua), Dr Enny Nurbaningsih, SH, Prof. Dr. Harkristuti Haskrisnowo, SH, LLM, Ir. Betti S Alisjabana, MBA, Dr. Yenti Garnasih, SH, MH, Supra Wimbarti, M.SC, Ph.D, Natalia Subagyo, M.Sc,  Dr. Diani Sadiawati, SH, LLM, dan Meuthia Ganie Rochman, Ph.D.

Merekalah yang bertanggung-jawab atas pemilihan pimpinan KPK sekarang ini. Nama-nama yang mereka rekomendasikan itu yang ditentukan oleh anggota dewan dari Komisi III DPR melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit & proper test).