SHARE

Tiga hari sudah berlalu semenjak teror terhadap Novel Baswedan, penyiraman air keras ke wajahnya yang dilakukan dua pengendara sepeda motor pada Selasa (11/4) subuh lalu.

Novel Baswedan sendiri sudah sejak Rabu (12/4) dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura, sehingga untuk sekian lama tak bisa aktif melanjutkan tugasnya sebagai penyidik KPK.

DI KPK, Novel tak hanya menjadi penyidik senior. Mantan pamen polri yang terakhir bertugas di Polres Bengkulu ini adalah salah satu penyidik utama KPK.

Novel terbiasa menangani kasus-kasus korupsi besar, termasuk kasus dugaan korupsi pada proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) yang merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun dari anggaran Rp 5,9 triliun pada APBN 2011-2012.

Tiga penyidik KPK Novel Baswedan (kanan), Ambarita Damanik (kedua kanan), M Irwan Santoso (kiri) bersiap untuk memberikan keterangan untuk dikonfrontasi dengan mantan anggota Komisi II DPR 2009-2014 Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani (kedua kiri) dalam sidang kasus tindak pidana korupsi pengadaan pekerjaan KTP elektronik (E-KTP) dengan terdakwa Sugiharto dan Irman di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (30/3). Dalam persidangan tersebut, Miryam menyangkal keterangan BAP penyidik KPK yang diperiksa atas dirinya. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pd/17.
Ini momen ketika Novel Baswedan (kanan) dikonfrontasi dengan Miryam S Haryani

Dari penelusuran Nasionalisme.net, Novel telah memegang kasus e-KTP ini sejak tiga tahun lalu.

Terkait penyiraman air keras yang dialami Novel ini sejak awal KPK sudah menyatakan bahwa mereka tak gegabah untuk menghubung-hubungkan serangan terhadap penyidik andalannya itu dengan pengusutan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.

Hingga saat ini KPK belum menyimpulkan adanya keterkaitan dua hal tersebut.

Novel sempat bersaksi di persidangan dengan terdakwa Irman dan Sugiharto pada kasus e-KTP ini untuk dikonfrontasi dengan mantan anggota Komisi II DPR dari Fraksi Hanura, Miryam S Haryani.

Baca Juga  Bamsoet: Kapan Saya Komunikasi Sama Miryam?