SHARE

ACEH — Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI) memakai aktivitas Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) manfaat mendorong penambahan jumlah peneliti di hari esok dengan menimbulkan bibit ilmuwan baru di tingkat sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat.

” Jumlah peneliti kita itu begitu kurang, dibanding dengan sebagian negara ASEAN yang lain kita ketinggalan jauh. Kita baru miliki sekitaran 9. 500 peneliti, itu kurang bila dibanding dengan jumlah masyarakat yang lebih dari 250 juta jiwa, ” kata Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto pada proses PIRN XVI di Aceh, Senin (10/7).

Menurutnya, paling tidak Indonesia memerlukan 250. 000 peneliti untuk sekarang ini. Keperluan peneliti pasti juga akan jadi bertambah bersamaan dengan meningkatnya jumlah masyarakat di Indonesia.

Lewat aktivitas PIRN yang melibatkan sekitaran 450 remaja dari SMA, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau sederajat dari 28 propinsi, ia mengharapkan ada calon-calon peneliti baru yang siap isi kekurangan itu baik untuk di pusat ataupun di daerah.

” Nah adik-adik ini kita ajari dari mulai posisi awal riset mesti lakukan apa, standarnya seperti apa, dengan keinginan selanjutnya mereka sukai mempelajari serta ingin jadi peneliti, ” tutur Bambang.

Peseta PIRN XVI juga akan memperoleh materi metodologi riset di hari pertama, dilanjutkan dengan persiapan riset lapangan berbentuk pengaturan instrumen riset di hari ke-2, serta lakukan pengumpulan data atau riset lapangan di hari ke-3. Pemrosesan, analisa, pembuatan alat, penulisan karya catat ilmiah serta persiapan presentasi dikerjakan di hari ke-4, yang dihari selanjutnya dilanjutkan dengan presentasi laporan.

Beberapa tempat yang juga akan jadi tempat riset mereka diantaranya Pasir Putih, Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lampulo, Semen Andalas, Kampung Lampulo, Lampisang, Waduk Keliling, Lampaya, Lhok Seudu.