SHARE

Seseorang mahasiswa dari satu fakultas di Kampus Negeri Jakarta (UNJ) berinisial SF bercerita pengalamannya yang memetik banyak kesusahan karena namanya tidak terdaftar dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (PDPT DIKTI).

Berdasar pada penelusuran Kompas. com, PDPT DIKTI adalah pangkalan data dengan nasional yang mengumpulkan data dari semuanya perguruan tinggi yang ada.

PDPT memberi info dari mulai program studi (prodi), profil perguruan tinggi, profil dosen, serta data profil mahasiswa.

Semuanya data yang yang ada adalah data-data dari pelaporan yang diantar oleh semuanya perguruan tinggi pada setiap semester.

Info yang datang dari PDPT DIKTI itu termuat dalam situs forlap. ristekdikti. go. id atau umum dimaksud situs Forlap Dikti yang dikelola Pusat Data serta Info Iptek Dikti.

Kesulitan

Mengenai SF adalah seseorang mahasiswi program studi (prodi) D3 di satu diantara jurusan di kampus yang terdapat di lokasi Rawamangun, Jakarta Timur.

Sekarang ini, SF menanti saat sidang pekerjaan akhir (TA) serta merencanakan meneruskan kuliah ke tahap D4 di satu diantara kampus swasta di lokasi Jakarta Barat.

” Tetapi, sekian hari waktu lalu saya memperoleh e-mail balasan dari kampus itu yang menyebutkan kalau saya tidak bisa ikuti tes itu karna tak ada datanya di Forlap Dikti, ” katanya pada Kompas. com, Senin (10/7/2017).

Menurut SF, dengan tidak tercatat dalam PDPT DIKTI, ia juga akan kesusahan meneruskan kuliah, mendaftar beasiswa, atau jadi PNS.

Menurutnya, persoalan ini tidaklah yang pertama kalinya berlangsung. Th. lantas, SF juga tidak berhasil mewakili UNJ dalam seleksi Mapres (mahasiswa berprestasi) tingkat Nasional karna tidak tercatat di Forlap Dikti.

” Saat itu saya diwajibkan untuk mengopi link profil mahasiswa jadi prasyarat ikuti Mapres Nasional. Walau sebenarnya, di portal situs itu tidak terdaftar nama saya, ” tutur dia.

Karna tidak tercatat, SF dianjurkan untuk memberikan laporan problem ini pada Wakil Rektor Bagian Kemahasiswaan.

SF juga pernah memberikan laporan hal semacam ini pada Wakil Rektor namun tidak memperoleh jawaban tentu. SF malah terasa ” dibuang kesana serta ke mari ” tidak ada kejelasan.

” Dari Wakil Rektor saya diminta ke sisi akademik fakultas, lantas ke Pustikom, lantas ke Bapsi. Hingga pada akhirnya pendaftaran ditutup serta saya tidak dapat turut mapres nasional, ” kata dia.

Mendekati sidang kelulusannya, SF belum memperoleh kejelasan statusnya jadi ” mahasiswa tulen “.