SHARE

Mario Cornelio Bernardo dua kali tidak memenuhi panggilan menjadi saksi di sidang kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri. Dia mangkir untuk kesaksian pada persidangan Kamis (11/5) lalu dan kemudian Senin (15/5) kemarin. Pengacara yang pernah bergabung di firma Hotma Sitompul ini, bahkan disebut-sebut masih terhitung keponakan dari pengacara kondang itu,  tidak memenuhi panggilan untuk datang ke persidangan tanpa memberikan alasannya, tertulis atau tidak tertulis.

Mangkirnya Mario Cornelio Bornardo ini mengundang pertanyaan. Dia punya peran dalam kasus e-KTP ini. Dalam perkembangan penyidikan kasus ini diketahui kalau Mario Cornello Bernardo adalah perantara dari Paulus Tanos dengan Hotma Sitompul. Adalah Mario yang menerima  uang sebesar 400.000 dolar AS dan Rp 150 juta yang diberikan Paulus Tanos kepada Hotma Sitompul, yang belakangan dikembalikan oleh Hotma Sitompul.

mario2
Hotma Sitompul

Dari proses pendalaman aspek pengadaan proyek e-KTP ini diketahui, uang sebesar 400.000 dolar AS dan Rp 150 juta itu diberikan oleh Sugiharto, salah satu anak buah Gamawan Fauzi. Namun, Sugiharto mendapatkannya dari Paulus Tanos. Dana 400.000 dolar diberikan langsung oleh Sugiharto kepada Mario Cornello Bernardo, sementara yang Rp 150 juta melalui transfer bank.

Peran Mario Cornello Bernardo sebagai perantara Paulus Tanos dengan Hotma Sitompul ini diakui sendiri oleh Hotma Sitompul. Di sisi lain, dari penelusuran Nasionalisme.net, Mario merupakan pengacara yang pernah terjerat kasus suap.

Pada Senin, 16 Desember 2013, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Mario selama empat tahun penjara. Saat itu majelis hakim menyatakan Mario terbukti menyuap staf Mahkamah Agung (MA), Djodi Supratman, untuk mengurus perkara kasasi yang ditangani di MA.

mario1
Mario Cornello Bernardo saat divonis empat tahun penjara, Desember 2013, atas suap terhadap hakim agung Djodi Supratman

Setelah dua kali mangkir untuk dihadirkan sebagai saksi, Mario Cornello Bernardo masih diimbau untuk bersikap kooperatif dan memenuhi panggilan sidang. Kesaksiannya dianggap penting untuk lebih mendalami kedekatan antara Paulus Tanos dengan Gamawan Fauzi, mendagri.

Baca Juga  Tujuh Saksi di Sidang Senin Ini

Saat proyek e-KTP ini bergulir, Paulus Tanos santer disebutkan sangat dekat dengan Gamawan Fauzi. Bahkan Gamawan Fauzi juga yang meminta Paulus Tanos berperan di proyek e-KTP dan merekomendasikan perusahaannya masuk dalam konsorsium PNRI untuk tender e-KTP, yang sudah direkayasa Kemendagri untuk dimenangkan.