SHARE

SJAFRIE Syamsuddin turut berperan dalam memajukan adiknya, Maroef Syamsuddin, sebagai orang pertama di PT Freeport Indonesia. Sjafrie Syamsuddin adalah mantan Pangdam Jaya yang dikenal memiliki hubungan baik dengan keluarga Presiden Soeharto. Sjafrie Syamsuddin terakhir menjabat wakil menteri pertahanan di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada 14-15 Oktober 2014, Sjafrie Syamsuddin membawa adiknya, Maroef Syamsuddin, ke Timika, Papua. Turut menyertai mereka adalah Sudirman Said, yang saat itu masih menjadi salah satu direktur di PT Pindad, perusahaan pelat merah yang memproduksi persenjataan, amunisi dan alat-alat peledak. Pindad menjadi penyedia bahan peledak untuk Freeport.

Kehadiran Sjafrie, Maroef dan Sudirman Said di Timika tentunya sebagai bagian dari proses pendekatan intensif dan lobi-lobi serius mereka untuk menguasai Freeport. Pertengahan Oktober 2014 adalah masa transisi sebelum kabinet kerja Presiden Joko Widodo diumumkan dan nama Sudirman Said belum terpilih sebagai menteri.

Sjafrie Syamsuddin jelas mempersiapkan adiknya untuk menjadi pimpinan di Freeport Indonesia ini. SS turut dipromosikan sebagai menteri ESDM, yang secara teknis terkait dengan Freeport. Maroef Syamsuddin awalnya akan ditempatkan dalam jajaran direktur atau menjadi orang kedua, ada figur lain yang didorong untuk menjadi Presdir dari semula menjabat wakil presdir.

Pada perkembangannya Maroef Syamsuddin yang langsung menjadi pengendali utama Freeport, bukan wakil presdir Freeport sebelumnya.

Maroef Syamsuddin dilantik menjadi Presdir Freeport Indonesia pada 7 Januari 2015. Mantan perwira tinggi TNI Angkatan Udara dengan pangkat terakhir Marsekal Muda (Marsda) ini menjadi orang Indonesia ke-9 yang menempati posisi puncak di Freeport Indonesia.

Maraoef Syamsuddin mengikuti suksesi Ali Budiarjo (1973-1986), Usman Pamuntjak (1986-1991), Hoediatmo Hoed (1991-1996), Adrianto Machribie (1996-2006), Armando Mahler (2006-2012), dan terakhir Rozik Boedioro Soetjipto (2012-2015).

Maroef Syamsuddin sebelumnya lama berkarir di Badan Intelijen Negara (BIN). Lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1980 ini memulai karirnya di BIN pada 2004, hingga Desember 2014.

Di dunia bisnis, Maroef Syamsuddin sempat ditunjuk menjadi Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara XIII menggantikan Agus Pakpahan.

Tak banyak jejak rekam karier militer Maroef yang tersebar di dunia maya. Namun, selama di BIN dia aktif dalam kegiatan di Papua dan Aceh. Pada 2011, sebagai wakil kepala BIN, Maroef Syamsuddin berperan dalam menangkal pemogokan besar-besaran yang terjadi di PT Freeport Indonesia.
Maroef Syamsuddin juga sering terlibat dalam rapat koordinasi dengan tim pemantau pelaksanan otonomi khusus (otsus) Papua dan Aceh pada 2014.

Penunjukkan Maroef Syamsuddin sebagai Presdir Freeport pada awal 2015 dilakukan di tengah isu mengenai dilanjutkan atau tidaknya perpanjangan operasi Freeport di Indonesia.

Setelah dilantik sebagai presiden pada Oktober 2014 Jokowi sudah menegaskan bahwa pembahasan perpanjangan izin operasi Freeport baru akan dilakukan tahun 2019, atau dua tahun sebelum berakhirnya kontrak karya pada 2021. Namun Freeport sudah mengajukan perpanjangan kontrak dari seharusnya berakhir 2021 itu menjadi 2041.

Penyadapan ilegal yang dilakukan Maroef Syamsuddin dalam pertemuannya dengan ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha Riza Chalid jelas berkorelasi dengan permasalahan pembahasan perpanjangan izin operasi Freeport.

Maroef Syamsuddin diduga kuat sengaja menyadap percakapannya yang membicarakan berbagai hal sensitif itu untuk keuntungan Freeport Indonesia. Sebagai sebuah tekanan bagi Jokowi, melalui instabilitas politik yang mengguncang pemerintahannya sekarang ini…

Ironisnya, Maroef Syamsuddin justru dianggap pahlawan !