SHARE

Pertanyaan tentang semangat kecintaan dan bela negara dari Maroef Syamsuddin mengemuka kembali dalam persidangan Mahkamah Kehormatan Dewan, Kamis. Ke-17 anggota MKD mempertanyakan motiv dari Dirut Freeport Indonesia itu menyadap pembicaraannya dengan Ketua DPR Setya Novanto.

Penyadapan itu dilakukan secara sengaja. Penyadapan itu ilegal, mengingat Maroef Syamsuddin bukanlah termasuk dari kalangan atau unsur yang memiliki legalitas untuk merekam pembicaran dengan lawan bicaranya. Hasil penyadapan yang dilakukan melalui telepon seluler itu karenanya tak bisa dijadikan barang
bukti yang sah.

Sebenarnya sudah sejak awal kasus ini diledakkan oleh menteri ESDM Sudirman Said sudah langsung diketahui siapa yang melakukan penyadapan. Tidak mungkin dilakukan oleh Setya Novanto, sebab justru ketua DPR yang dijadikan target untuk dijatuhkan. Tidak juga oleh Muhammad Riza Chalid, pengusaha yang ikut dalam pertemuan tersebut. Maroef Syamsuddin hanya ingin menjebak Setya Novanto.

Tidak keliru jika mayarakat sejak awal sudah seperti menghakimi Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin sebagai biang kerok dari kegaduhan politik yang terjadi sekarang ini. Keduanya punya motiv. Sekadar mengingatkan kembali, Sudirman Said mempublikasikan hasil sadapan dari Maroef Syamsuddin itu pada awal November. Besar kemungkinan jika hal itu dilakukan untuk menutupi kesalahan atau pelanggaran undang-undang dengan melakukan komunikasi melalui surat menyurat dengan Preskom Freeport James ‘Jim Bob’ Moffet, 7 Oktober.

Menjadi pertanyaan menarik pula mengapa Sudirman Said hanya mempublikasikan rekaman percakapan 12 menit, sementara Maroef Syamsuddin menyadap pembicaraan dari pertemuan sepanjang hampir 90 menit.

Muara dari kegaduhan politik ini adalah Freeport. Maroef Syamsuddin, salah satu perwira terbaik Angkatan Udara dengan bintang dua di pundaknya, tampaknya tak mudah untuk menolak permintaan bigbos-nya di AS agar melakukan berbagai upaya dalam mempertahankan hegemoni Freeport di Indonesia.

Maroef Syamsuddin bukan orang bodoh untuk tidak memahami bahwa apa yang dilakukannya semestinya bertentangan dengan harga diri dan semangat cinta negara yang ditanamkan kepadanya sejak muda. Dia sebelumnya menyebutkan jika dirinya punya integritas dan ingin melakukan perubahan mental, sebagaimana jargon yang dikumandangkan Joko Widodo.

Integritas seperti apa? Perubahan mental yang bagaimana? Integritas Maroef Syamsuddin lebih besar kepada Freeport dibanding kepada NKRI. Mentalitas Maroef Syamsuddin sudah tergadai untuk kepentingan Freeport?