SHARE

Skenario untuk menuju Papua Merdeka yang dirancang oleh Freeport dan Amerika Serikat, dilakukan dengan segala cara. Salah satunya adalah dengan menggambarkan kepada public, terutama masyarakat Papua, tentang tingkah laku pemimpin nasional yang buruk.

Hal itu terlihat dari upaya Maroef Syamsudin dalam merekam pembicaraannya dengan Setya Novanto, Ketua DPR RI dan Muhammmad Riza Chalid, pengusaha. Rekaman yang dilakukan secara illegal itu, dilakukan tanpa sepengetahuan oleh lawan bicaranya.

Upaya penyadapan yang dilakukan oleh Maroef Syamsudin itu bertujuan untuk mengorek keterangan dari dua lawan bicaranya, SN dan MR tentang kondisi pemimpin nasional. Lewat berbagai ragam dan cara terlihat jelas, Maroef Syamsudin berusaha untuk bertemu dan menggali informasi dari SN dan MR.

Lihat saja, sebagai Presdir Freeport yang dilantik pada Januari 2015, Maroef Syamsudin baru mengajak bertemu Ketua DPR untuk memperkenalkan diri pada bulan April. Di sini terlihat ada jeda waktu tiga bulan yang tidak dimanfaatkannya. Biasanya pejabat tinggi Freeport akan memperkenalkan dirinya ke pejabat RI, sebulan atau maksimal dua bulan setelah dilantik.

Setelah ajakan atau permintaan bertemua Ketua DPR oleh Maroef Syamsudin dilakukan pada April 2015 sukses, ia meminta untuk dilakukan pertemuan kedua di bulan Mei 2015. Selanjutnya, Maroef Syamsudin kembali untuk meminta bertemua Ketua DPR Setya Novanto pada 8 Juni di Pacific Place, Jakarta.

Pada pertemuan 8 Juni 2015 tersebut, Maroef melangsungkan aksinya dengan menyadap pembicaraan secara illegal. Dalam transkrip yang diedarkan di masyarakat, terlihat jelas dari awal, Maroef Syamsudin yang mulai mengarahkan pembicaraan. Mulai dari sekedar menanyakan kabar, hingga menjurus menanyakan hal-hal lain, semua bermula dari Maroef Syamsudin. Bahkan upaya permintaan saham yang digembar-gemborkan oleh media, terutama Metro TV dkk., jelas upaya itu dating dari Maroef Syamsudin.

Selanjutnya, setelah mengorek keterangan bermacam-macam Maroef Syamsudin juga mengarahkan ke pembicaraan soal pernikahan pejabat, termasuk menjelekkan Menteri PAN yang menurutnya masih ecek-ecek. Maroef kemudian juga bertanya soal Perpres percepatan pembangunan ekonomi Papua, persoalan saham-saham bahkan ke Pilpres tahun 2014.

Dalam rekaman tersebut, Maroef Syamsudin ingin membangun keterangan dari dua sumbernya nyang ia sadap secara diam-diam. Lewat keterangan-keterangan tersebut, Maroef jelas dan nyata sedang mengembangkan konstruksi sebuah scenario penjebakan.

Rupanya, apa yang dilakukan oleh Maroef Syamsudin ini sukses. Ibaratnya sekali pukul dua bahkan tiga nyamuk mati bersamaan. Maroef Syamsudin sukses mendapatkan dan menjelek-jelekkan semua pemimpin negara RI. Mulai dari Presiden Joko Widodo yang ia arahkan dan tuding dibantu oleh Amerika Serikat untuk menang Pilpres, hingga Jusuf Kalla, kemudian Menko Polkam Luhut Panjaitan yang ia buat seolah-olah haus kekuasaan dan materi termasuk saham.

Kemudian obrolan warung kopi yang ia lakukan bersama dua lawan bicaranya itu oleh Maroef Syamsudin dijadikan sebagai alat memeras para pihat yang disadap. Selanjutnya, bukti rekaman illegal digunakan untuk memeras Setya Novanto sebagai Ketua DPR agar menyetujui perubahan Undang-Undang yang tengah digarap oleh kubu Freeport bersama Menteri ESDM, Sudirman Said. Saat Setya Novanto, menolak untuk membahas Undang-Undang tersebut, maka dilakukan pemerasan tadi.

Inti dari semua aksi intelijen yang dilakukan oleh Maroef Syamsudin adalah mendengar keterangan dari Setya Novanto, meski dilakukan secara tidak resmi dan illegal untuk mendapatkan bukti-bukti tentang keburukan para pejabat Indonesia. Rekaman itu juga sukses menjadi alat peras, karena bulan November lalu diledakkan untuk menjerat Setya Novanto dan juga beberapa pejabat yang ikut disinggung dalam pembicaraan itu.

Kini public, tidak hanya Indonesia dan khususnya Papua, namun juga dunia tahu tentang kondisi di belakang layar, yang semestinya tidak terungkap dan menjadi konsumsi umum. Rekayasa untuk menjadikan Papua Merdeka, sudah selangkah dilakukan Freeport lewat anteknya, Maroef Syamsudin.