SHARE
Gamawan Fauzi, salah satu kroni SBY di kabinet.

Setelah lengser dari kursi kepresidenan kasus demi kasus yang melibatkan klan Susilo Bambang Yudhoyono terus bermunculan. Belum tuntas satu kasus, sudah muncul kasus berikutnya.

Mulai dari kasus lama seperti Bank Century, kasus Hambalang, Kasus Dana Haji, Kasus Makelar Pajak, Kasus Garuda, hingga yang terakhir adalah kasus e-KTP. Banyak dan pelik, sehingga memunculkan istilah Gurita Cikeas.

Bau busuk dari Cikeas itu muncul dengan sendirinya. Tak bisa ditutupi dan tak bisa dimungkiri.  Apalagi ada orang dalam yang dulu dikorbankan seperti Muhammad Nazaruddin. Mantan bendahara Partai Demokrat itu terus bernyayi tentang kelakuan mantan bos dan rekan-rekannya di Partai Demokrat.

Khusus untuk kasus e-KTP yang merugikan Negara hingga 2,4 triliun rupiah, SBY bisa-bisanya mengeluarkan lima Perpres untuk menutup-nutupi perbuatan anak buah dan klan. Entahlah, apa ia juga terlibat atau tidak dalam kasus tersebut.

Dalam kasus e-KTP itu, ada tiga kelompok yang memainkan perannya masing-masing. Pertama tentu klan Cikeas berikut antek-anteknya saat berkuasa. Mereka disokong pihak kedua, yakni anggota DPR yang sealiran dan mau diajak korupsi berjamaah. Ketiga, yang tak kalah pentingnya, adalah kroni bisnis Cikeas yang siap sedia menyediakan modus-modus korupsi yang diperlukan.

 

Skema Gurita Cikeas yang menghebohkan.
Skema Gurita Cikeas yang menghebohkan.

 

Khusus untuk kasus e-KTP ini, Gamawan Fauzi menjadi orang terdepan yang dalam waktudekat akan dikorbankan. Mantan Menteri Dalam Negeri ini, ibarat Nazaruddin dan Anas Urbaningrum, harus dijadikan tumbal untuk menutup jalan menuju keluarga inti SBY.

Gamawan, adalah actor utama dalam kasus menilep uang rakyat dari proyek e-KTP. Mantan Gubernur Sumtera Barat itu yang mengatur atau merancang e-KTP. Selanjutnya, ia juga membahasnya di DPR dengan rayuan maut untuk anggota DPR. Terakhir, tentu menunjuk pemenang tender yang semuanya serba akal-akalan karena sejak awal sudah diatur sedemikian rupa.

Pangeran Cikeas, konon hampir terlibat dalam semua sepak terjang Gurita Cikeas, sedemikian rupa harus diamankan. Namun setelah SBY lengser dan banyak pihak-pihak yang dikorbankan mulai teriak, Gurita Cikeas mulai kelabakan.

Presiden Joko Widodo, tentu tahu akan hal itu. Untuk menghormati SBY sebagai mantan presiden, penyelesaian bijak dipilih oleh Jokowi. Kegaduhan politik, coba dihindari. Namun setelah kasus ini sudah memuncak, mau tak mau jalan keadialan harus ditempuh.

Kini kaki dan tangan Gurita Cikeas pun lagi-lagi akan terpotong lagi. Tak peduli meski SBY, Kamis (9/3/2017) sudah mengemis kepada Jokowi agar penyelesaian kasus ini bisa elegan. Lagi-lagi, SBY harus kembali harus mengorbankan anak buahnya guna menutupi borok Cikeas yang semakin hari makin busuk baunya.