SHARE

BANYUMAS — Penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, kembali bertambah sesudah pernah lesu.

” Dalam sekian waktu paling akhir volume gabah yang masuk ke gudang-gudang Bulog Banyumas kembali bertambah karna banyak wilayah sudah masuk waktu panen, ” kata Kepala Bulog Banyumas Setio Wastono di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu (12/7).

Ia mengaku bila penyerapan gabah oleh Bulog Banyumas pernah lesu waktu petani belum juga masuk waktu panen. Diluar itu, kata dia, banyak petani yang pilih menaruh beberapa gabah mereka untuk kepentingan Lebaran.

Dengan hal tersebut, kata dia, volume gabah yang masuk ke gudang Bulog Banyumas waktu itu rata-rata dibawah 100 ton /hari. ” Tetapi dalam sekian waktu paling akhir bertambah sampai kisaran 200-300 ton /hari, ” tuturnya.

Meski sekian, diakuinya harga gabah kering panen (GKP) di beberapa lokasi yang sudah masuk waktu panen masih tetap tinggi karna menjangkau Rp 3. 800 per kg atau diatas harga pembelian pemerintah (HPP) yang sebesar Rp 3. 700 per kg. Terkecuali karna baru masuk waktu panen, dia mengira masih tetap tingginya harga GKP itu juga dikarenakan serangan hama wereng yang beresiko pada penurunan produksi padi.

” Kami optimis prognosa penyerapan gabah sejumlah 85. 000 ton pada th. 2017 bisa terwujud karna waktu panen saat ini ‘lumintu’ atau berkepanjangan, ” tuturnya.

Ia menyebutkan sampai sekarang ini, realisasi penyerapan gabah yang dikerjakan Bulog Banyumas sudah menjangkau 25 ribu ton setara beras atau sekitaran 50 ribu ton gabah. Sesaat, stock beras di gudang-gudang Bulog Banyumas, kata dia, diprediksikan masih tetap memenuhi keperluan sampai bln. September 2017.