SHARE

Nelayan asal Pantai Lampon, Banyuwang, menampik ketentuan Menteri Kelautan serta Perikanan yang melarang penangkapan benur atau benih lobster yang banyak di perairan Pantai Lampon, Banyuwangi.

Menurut mereka, kebijakan itu membuat pendapatan nelayan makin alami penurunan. Mereka lakukan memprotes dengan menempatkan spanduk berisikan penolakan di selama jalan desa di Pantai Lampon.

Satu diantara spanduk bertuliskan ” Permen Susi Menyengsarakan Perekonomian Nelayan Kecil “.

Selasa (11/7/2017), Harsono, salah seseorang nelayan Pantai Lampon, menyebutkan, mulai sejak lima th. paling akhir mereka kesusahan menangkap ikan serta alami waktu paceklik hingga mulai 2014 mereka berpindah menangkap benur atau bibit lobster yang dapat diperoleh dengan gampang di sekitaran Pantai Lampon Banyuwangi.

” Dahulu kami menangkap ikan seperti Tuna, Tongkol, Layur serta Lemuru ke tengah laut sana jaraknya sekitaran 20 km.. Namun paceklik serta kami berpindah ke benur yang telah dapat di tangkap 100 mtr. dari bibir pantai sini, ” kata Harsono.

Dari pendapatan menangkap Benur, nelayan dapat mengantongi uang sampai Rp 2 juta /hari. Jumlah benur yang di tangkap bermacam, dalam semalam dapat 200 ekor atau lebih dari seribu ekor.

” Kami tangkap benur dengan ramah lingkungan namun kenapa dilarang? ” keluh Harsono.

Ia menyebutkan, sampai kini penangkapan benur memakai serabut pelepah kelapa yang di buat seperti mangkuk, lantas disusun dengan diatas jaring serta lalu ditenggelamkan di kedalaman 10 mtr. didalam laut kurun waktu semalaman.

Lantas lampu jelas dipasang di perahu untuk menarik perhatian benur mendekat pada pelepah kelapa. Bila pagi, pelepah itu diangkat serta benurnya dipindah.

” Yang kami kerjakan ramah lingkungan. Cuma serabut pelepah kelapa serta lampu dari kapal, ” tuturnya.

Bila mesti menangkap lobster, Harsono menyebutkan nelayan kesusahan karna jaring yang dipakai gampang rusak terserang karang. Diluar itu, dalam sehari, nelayan juga belum juga pasti memperoleh satu atau dua lobster.

” Lima hari saja mencari lobster jala telah rusak semuanya serta itu belum juga pasti bisa. Bisa satu atau dua telah bersukur, ” tuturnya.

Disamping itu, Agus Naryo, ketua RW 10 Lingkungan Kampung Baru, Desa Pesanggaran, pada Kompas. com, menyebutkan, nyaris semua warga di daerahnya bekerja jadi nelayan serta menggantungkan pendapatan dari menangkap benur mulai sejak musim paceklik ikan.

Tetapi mulai sejak banyak pengepul benur di tangkap oleh polisi, harga benur makin alami penurunan. Pengepul takut beli benur karna dipandang tidak mematuhi ketentuan.

” Dahulu sempat satu benur ukuran satu gr dihargai 30. 000 rupiah per ekor, saat ini murah cuma 2. 000 rupiah per ekor. Itu juga pengepulnya beli sembunyi-sembunyi karna takut di tangkap polisi, ” kata Agus.

Bila nelayan lakukan pembesaran benur, Agus menyebutkan hal itu susah dikerjakan karna Pantai Lampon masuk laut selatan yang mempunyai ombak besar serta tidak dapat dipakai untuk membuat tambak.

” Diluar itu, modalnya banyak juga. Jadi kami menuntut supaya ketentuan mengenai larangan penangkapan benur selekasnya dicabut karna menyengsarakan kami beberapa nelayan. Kita bingung ingin mengeluh ke siapa, ” ujarnya.

Terlebih dulu, sejumlah 30. 600 bibit lobster sejumlah Rp 214 juta dilepasliarkan di Bangsring Under Water lokasi wisata konservasi, Jumat (2/6/2017) kemarin. Sedang pada bln. April th. 2107, ada sekitaran 6. 000 yang dilepaskan.

Bibit lobster itu diamankan penadah di lokasi Banyuwangi Selatan. Tiap-tiap bibit lobster ukuran kurang dari 2 sentimeter dihargai Rp 7. 000.