SHARE
Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto (kanan) dan Ketua Dewan Pembina, Aburizl Bakrie.

Rapimnas Partai Golkar 2016 sudah berlalu. Ratusan fungsionaris Partai Golkar yang berasal dari DPD Tingkat I seluruh Indonesia sudah kembali ke daerahnya masing-masing. Dari arena Rapimnas yang digelar 23-25 Januari di JCC, Senayan, itu, mereka tentunya sudah membawa bekal untuk digodok dan dimatangkan saat Munaslub mendatang.

Kader-kader terbaik Partai Golkar dari seluruh daerah umumnya senang dengan pencapaian pada Rapimnas ini. Terutama dengan kepastian akan diselenggarakannya Munaslub untuk menentukan kepengurusan Partai Golkar yang sudah menyatu. Munaslub menjadi arena untuk menyatukan kembali seluruh stakeholders partai yang terpecah-pecah selama beberapa tahun belakangan ini.

Semua tampaknya sudah menyadari, bahwa perpecahan hanya menumbuhkan harapan kosong. Waktu dan dana yang tersia-sia. Mempertahankan ego dan justifikasi kebenaran masing-masing hanya akan menambah kesengsaraan, sekaligus hanya membuat lawan makin senang untuk melecehkan.

Demikianlah, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono sudah sama-sama memastikan diri untuk tidak akan tampil lagi di panggung pemilihan ketua umum partai. Dengan demikian, akan muncul figur baru, tokoh yang usianya diyakini lebih muda dari mereka. Faktor usia ini menjadi salah satu “persyaratan” yang banyak dimunculkan oleh kalangan senior partai. Ketua umum mendatang diharapkan muncul dari kategori usia 40 hingga 60 tahun.

Renegerasi

Keberadaan tokoh yang lebih fresh diharapkan bisa membuat perjalanan dan pergerakan partai menjadi lebih dinamis.

Saat Rapimnas kemarin, sudah dimunculkan sejumlah nama tokoh atau figur yang dinilai layak untuk menjadi pemimpin partai berikutnya–menggantikan Aburizal Bakrie dan Agung Laksono. Kemunculan nama mereka diselaraskan dengan kriteria atau persyaratan yang diwacanakan. Kriteria dan persyaratan yang wajib dimiliki oleh kandidat pengendali utama partai.

Kriteria yang paling mendasar adalah, bahwa seorang calon ketua umum harus memiliki kemampuan manajerial yang luar biasa, matang secara organisatoris, tahan banting, didukung fundamental  keuangan yang mumpuni, dan tak kalah pentingnya adalah, bisa diterima oleh semua kalangan.

Partai Golkar memang sangat homogen, karena terbentuk dari berbagai unsur, baik dari elemen organisasi kemasyarakatan, dan kelompok induk organisasi (kino). Ini yang membuat Partai Golkar begitu selalu bergolak, walau secara umum tetap dalam koridor dinamis. Dengan latarbelakang seperti ini, pemilihan seorang ketua umum selalu sulit diterka hasil akhirnya.

Banyak nama sudah dimunculkan pada Rapimnas kemarin, baik dari kelompok pendukung Aburizal Bakrie atau Agung Laksono. Namun, dari kedua kelompok pendukung ini ada satu kriteria yang sinergis. Ya, itu tadi, bahwa seorang ketua umum mendatang benar-benar figur yang mampu untuk merangkul semua kalangan.

Ini memang tidak mudah. Namun figure Setya Novanto, layak untuk diapungkan sebagai salah satu kandidat kuat. Apalagi, beberapa kader Golkar penting seperti Yoris Raweyai, sudah terang-terangan meminta Setya Novanto untuk memimpin Golkar.

Mengapa nama Setya Novanto tiba-tiba muncul di arena Rapimnas kemarin? Nama mantan Ketua DPR ini dilontarkan oleh sejumlah kader Partai Golkar dari daerah. Setya Novanto sendiri tampaknya “acuh beubeh”, mungkin karena menyadari posisinya yang agak kurang menguntungkan sekarang ini. Setelah mundur dari posisi Ketua DPR, dan kini bergantian kedudukan dengan Ade Komaruddin (Akom), sebagai Sekretaris Golkar di Parlemen, Setya Novanto lebih banyak colling down.  Mantan Ketua DPR itu benar-benar menghindari kemunculan di media.

Namun, itu semua sudah berlalu. Dari apa yang dihadapinya tempo hari itu, masyarakat kini sudah dapat menilai, siapa yang salah dan siapa yang benar. Memperjuangkan kebenaran memang tidak mudah, perlu pengorbanan, penuh liku. Itu semua sudah dihadapi dan dilakukan oleh Setya Novanto. Itu semua membuat Setya Novanto semakin matang.

Rekam jejak Setnov sendiri tergolong luar biasa hebat! Ia telah menjadi Anggota DPR sejak 1992 hinggaa kini, tanpa pernah terpental dari posisi tersebut. Setnov juga dikenal memiliki kemampuan sangat luwes dalam bernegosiasi. Jadi Setnov bisa dibilang  figure paling pantas.

Mungkin karena itu wajar kalau sebagian besar stakeholders Partai Golkar di pusat dan daerah menilai Setya Novanto kini kian wise. Tak perlu banyak bicara, mungkin seperti itu prinsipnya sekarang ini. Buktikan dengan kerja, dan pengorbanan.