SHARE
Gamawan Fauzi, menerima duit sogokan e-KTP.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) secara resmi sudah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus mega korupsi e-KTP. Selain Irman dan Sugiharto yang kasusnya kini sudah disidangkan di Pengadilan Tindak Pindana Korupsi (Tipikor), juga terdapat Andi Agustinus alias Andi Narogong yang kini sudah ditahan KPK.

Selain ketiga orang tersebut, masih terdapat sekitar 34 nama yang disebutkan dalam didakwa jaksa penuntut umum, telah menerima uang sebagai imbalan atau sogokan untuk memperlancar korupsi itu. Namun sebagian besar nama-nama tersebut menolak tuduhan itu.

Gamawan Fauzi disebut menerima 4,5 juta dollar AS dan Rp 50 juta dalam beberapa kali penerimaan. Namun, Fauzi membantahnya. Bahkan dia berani bersumpah bahwa dirinya tak pernah menerima sejumlah uang tersebut.

“Satu rupiah pun saya tidak terima, demi Allah. Kalau ada satu rupiahpun, saya minta didoakan saya dikutuk Allah,” ujar Gamawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Meski begitu, ia mengakui beberapa kali menerima uang di kurun waktu yang disebutkan di dakwaan. Namun, menurut Gamawan, pemberian uang itu terkait keperluannya berobat dan honor kerja.

Gamawan mengaku pernah meminjam uang kepada pedagang bernama Afdal Noverman. Ia membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tanah dan keperluan berobat. Saat itu ia menderita kanker usus dan harus dioperasi di rumah sakit di Singapura.

Menurut Gamawan, uang yang dia pinjam sebesar Rp 1,5 miliar secara tunai. Selain itu, Gamawan juga mengaku menerima uang Rp 50 juta dari honor sebagai pembicara saat melakukan kunjungan kerja di lima provinsi.

“Honor saya bicara di satu provinsi itu Rp 10 juta. Jadi lima provinsi Rp 50 juta,” kata Gamawan.

Padahal sebagai menteri, maksimal honor yang bias ia terima hanyalah 1,5 juta rupiah per jam. Dalam hal ini, terlihat sekali bagaimana kebohongan yang dilakukan oleh Gamawan.

Baca Juga  Margarito Kamis: Ada yang Salah dengan Tata Negara Kita
Andi Narogong, tokoh kunci dalam kasus e-KTP.
Andi Narogong, tokoh kunci dalam kasus e-KTP.

Berdasarkan surat dakwaan, Gamawan menerima uang dari Andi Agustinus alias Narogong, pengusaha pelaksana proyek e-KTP pada Maret 2011.

Andi memberi uang itu melalui Afdal Noverman sejumlah 2 juta dollar AS. Tujuannya, agar pelelangan pekerjaan proyek e-KTP tidak dibatalkan oleh Gamawan Fauzi.

Pada Juni 2011, Andi kembali memberikan uang pada Gamawan melalui adiknya, Azmin Aulia, sejumlah 2,5 juta dollar AS. Pemberian uang bertujuan untuk memperlancar proses penetapan pemenang lelang.

Selain itu, sebagian uang yang diperoleh Dirjen Dukcapil juga diberikan kepada Gamawan, yakni sebesar Rp 50 juta. Pemberian dilakukan saat kunjungan kerja di Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Andi Narogong, diyakini akan menjadi saksi kunci kepada Gamawan Fauzi. Apabila kasusnya diajukan ke pengadilan Tipikor, maka akan sangat menarik antara kesaksian yang diberikan Andi Narogong dan Gamawan Fauzi untuk diklarifikasi. Siapa yang benar, Gamawan atau Andi Narogong?