SHARE

Istanbul – Seseorang perempuan warga negara Indonesia (WNI) berumur 15 th. disangka jadi korban kekerasan seksual anggota grup ISIS di Turki, sekian dilaporkan surat berita Turki.

Pada Senin (10/07), BBC Indonesia sudah menghubungi Kementerian Luar negeri Indonesia serta KBRI di Angkara, tetapi belum juga memperoleh respon.

Sesaat, seseorang petinggi Tubuh Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan ” begitu sangat mungkin masalah itu berlangsung “.

Surat berita Turki, Hurriyet, edisi 10 Juli, memberikan laporan aktor tindak kekerasan seksual itu berhasil di tangkap sesudah pernah dinyatakan buron.

Dilaporkan, otoritas hukum Turki berhasil temukan korban, yang berinisial RFR, dalam operasi antiteror di tempat tinggal seseorang anggota grup militan ISIS, yang berinisial SY, di Propinsi Adana, Turki.

Menurut Hurriyet, perempuan berumur 15 th. itu ” dibeli ” dari orangtuanya di Istanbul oleh SY -seorang jihadis serta anggota grup militan ISIS- untuk ” dinikahi “.

Korban dilaporkan pernah berbohong tentang nama serta jati dianya, namun aparat hukum Turki pada akhirnya ketahui jati dianya lewat catatan resmi atas nama dianya di Istanbul.

Kantor kejaksaan Turki memohon info korban jadi bukti ada sangkaan masalah kekerasan seksual.

Penyelidikan pada masalah ini untuk memastikan apakah keluarganya berkaitan dengan ISIS atau tidak. Perempuan berumur 15 th. itu dilaporkan juga akan diekstradisi ke Indonesia jika prosedurnya telah usai.

‘Sangat sangat mungkin masalah itu terjadi’
Disamping itu, Direktur bagian mencegah Tubuh Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin menyebutkan dia tidak ingin menyikapi banyak ” walau saya ketahui itu “.

Hamidin menampik untuk memberi komentar masalah ini dengan khusus, tetapi pada umumnya, menurut Hamidin, ” begitu sangat mungkin masalah itu berlangsung “.

Baca Juga  Dalam Serangan Militan, 5 Polisi Mesir Tewas di Sinai

” Masalah (kekerasan) seksual, perdagangan wanita, itu memanglah pekerjaan ISIS. Di situ memanglah ada bursa istri. Umpamanya ada (keluarga) yang berkomunikasi dengan kita, ada anak perempuannya yang nyaris dikawin paksa oleh tentara ISIS, jadi kondisinya sesuai sama itu, ” kata Hamidin.

Menurut dia, kondisi itu tidak terlepas dari hasrat ISIS untuk membuat negara, yang elemennya yaitu orang-orang hingga mereka lakukan pemerkosaan, seperti yang berlangsung pada perempuan Yazidi.

” Lalu beberapa orang yang memanglah punya niat untuk pindah kesana, itu mereka menjadikan juga (istri). Kalau jadi istri pejuang itu adalah sisi dari aktivitas amaliyah mereka, ” tutur Hamidin.

Dia memberikan jika ada perempuan serta anak-anak WNI yang diketemukan oleh pemerintah Turki, jadi mereka juga akan dideportasi, ” namun yang lelaki, saya saksikan di check intens, berkaitan kesibukan aktivitasnya, ” tutur Hamidin.

Terlebih dulu, sejumlah 17 WNI diketemukan di tempat pengungsian di dekat kota Raqqa, Suriah. Mereka mengakui sempat tinggal di Raqqa saat lokasi itu dikuasai grup yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Sekitaran dua th. lantas, mereka mengakui meninggalkan Indonesia untuk gabung dengan ISIS di kota Raqqa, karna tertarik dengan ideologi serta janji ekonomi yang di tawarkan.

Terakhir, saat ISIS tidak berhasil menjaga Raqqa dari gempuran pasukan yang di pimpin AS, mereka meninggalkan kota itu.

Mereka lalu menyebutkan tertipu oleh janji-janji yang dilontarkan pimpinan grup militan itu, serta karena itu mereka menginginkan kembali pada Indonesia.