SHARE

Miryam S Haryani saat ini menjadi salah satu penghuni Rumah Tahanan KPK. Penyandang status tersangka pemberian keterangan palsu terkait kasus e-KTP ini masih menunggu pemeriksaannya, dan juga proses praperadilan dari gugatannya terhadap KPK yang disidangkan di PN Jakarta Selatan.

Dari Rutan KPK ini politisi Partai Hanura yang menjadi anggota DPR sejak periode 2009-2014 tersebut melontarkan curhatnya. Dia merasa kecewa dan  menyayangkan rencana pergantian antar waktu (PAW) yang disiapkan Ketua Umum DPP Hanura Oesman Sapta Odang.

Ia berharap, DPP Hanura bisa bersikap bijak dengan menunggu putusan tetap pengadilan. “Kalau ngomong sama saya, Bu Miryam enggak akan terima. Iya dong. Beliau ngomong menyayangkan sekali kalau benar ada PAW,” ujar Kuasa Hukum Miryam, Aga Khan Abduh, Rabu (10/5), yang menjadi tempat curhat Miryam S Haryani.

Aga menambahkan, sikap partai jika memberlakukan langsung PAW terkesan seperti habis manis sepah dibuang. Menurutnya, DPP Hanura harus melihat dedikasi Miryam terhadap partai.

asiade4
Aga Khan Abduh, pengacara dari Miryam S Haryani.

“Ini kan bukan masalah korupsinya, tapi tanggung jawab partai. Berbahaya, kalau semua kader dibeginikan. Kayak habis manis sepah dibuang,” katanya.

Namun, Aga mengatakan persoalan ini adalah urusan Hanura dengan Miryam. Sebagai kuasa hukum, ia tak punya kewenangan untuk turut campur. Tapi, ia menyampaikan kekecewaan kliennya terhadap rencana PAW.

“Selaku warga negara kan harusnya menunggu putusan hakim yang tetap. Harusnya melihat seperti ini. Ya, mungkin juga Pak Oso juga masih baru jadi ketum,” tuturnya.

Seperti diketahui, Miryam saat ini ditahan di Rutan KPK. Anggota Komisi V DPR itu sudah ditetapkan sebagai tersangka pemberian keterangan tak benar dalam persidangan e-KTP. Sebelum ditahan, ia sempat dinyatakan buron oleh KPK. Namun, pada Senin, 1 Mei 2017, Miryam ditangkap tim gabungan Kepolisian.

Baca Juga  Agus Rahardjo Juga Usili Rangkap Jabatan Olly Dondokambey

Terkait PAW, DPP Hanura menyiapkan pengganti Miryam sesuai calon legislator peraih suara terbanyak setelah mantan Bendahara Umum Hanura itu di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat VIII. Dapil tersebut meliputi Kabupaten Indramayu dan Cirebon dengan sembilan calon legislator senayan.

Miryam memperoleh suara terbanyak yaitu 34.030. Kemudian disusul oleh Yuddy Chrisnandi dengan suara sebanyak 23.252, dan ketiga dipegang oleh Sudiro Asno dengan 10.867 suara.