SHARE

ADA pepatah bijak berkata:  janganlah berkumpul dengan orang pandir, jangan berteman dengan pendusta, jangan berjalan dengan pengkhianat, karena semua itu tidak bermanfaat,  hanya mendatangkan kesesatan.

Pesan sederhana itu sangat dalam artinya. Pernyataan indah itu berlaku universal, untuk siapa saja, di mana saja, dan bahkan kapan saja. Tak lekang oleh jarak, tak dibatasi masa.

Pernyataan tersebut juga menyejukkan sekaligus mengingatkan bagi semua orang, dari berbagai lapisan, wong cilik atau pejabat. Tidak terkecuali juga untuk  ketua DPR Setya Novanto. Kini ia mungkin baru menyadari kalau pertemanan itu tidak selalu mendatangkan kemaslahatan, justru mudaratnya yang lebih besar.

Tersadar ia kalau sudah diselingkuhi, ditelikung, masuk dalam perangkap atau jebakan kawan yang sedari mula begitu manisnya menumbuhkan kesan kuat bisa seiring sejalan. C’est la vie, pak Setnov, itulah hidup. Mohon maaf, bukan bermaksud mengajari, hanya sekadar mengingatkan, bahwa hidup itu tak selamanya indah yaa

Saat ini para pendukung setia dan pengagum berat ketua DPR melihat betapa Setya Novanto yang mereka nilai jujur dan demikian lugu sepertinya sudah menjadi korban dari sebuah konspirasi besar. Lihat saja, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) sendiri serasa sudah menempatkan Setya Novanto pada posisi bersalah.

Belum lagi memulai persidangannya secara resmi, institusi lain sudah ikut-ikutan. Kejaksaaan Agung dikabarkan akan segera menelisik lebih dalam dugaan pelanggaran etik yang dituduhkan kepada ketua DPR. Dalam kaitan ini, mereka akan mendalami kemungkinan adanya permufakatan jahat dari rekaman percakapan pada pertemuan antara Setya Novanto dengan dirut Freeport Maroef Syamsuddin.

Berbagai cara coba dilakukan untuk menjerat Setya Novanto. Jika hal itu dilakukan oleh institusi kejaksaan, bisa dibilang kurang fair. Kejaksaan Agung dikendalikan oleh Prasetyo yang adalah salah satu kader terbaik dari Partai Nasdem.

Sulit untuk menepis anggapan bahwa Surya Paloh, ketua umum Nasdem, sudah menekan Prasetyo untuk segera beraksi menggempur Setya Novanto. Surya Paloh agaknya tengah memainkan psikologi massa, sebab dalam perkiraannya mereka sudah berhasil menggiring emosi rakyat untuk antipati dan membenci Setya Novanto.

Sebagian besar publik yang sudah semakin melek politik dan memahami adanya kolusi besar atau konspirasi besar nan jahat dibalik dugaan pelanggaran etik Setya Novanto tentunya tidak akan semudah itu memberikan kepercayaan pada Surya Paloh.

Publik menduga jika pressure atau tekanan yang diberikan Surya Paloh kepada institusi kejaksaan adalah untuk memperkuat jaring kekuasaan agar Setya Novanto benar-benar tidak dapat melepaskan diri. Upaya kejaksaan agung untuk menjerat Setya Novanto sekaligus untuk memperkuat gempuran MKD terhadap ketua DPR itu.
Merujuk dari perkembangan terkini dari kasus dugaan pelanggaran etik ketua DPR itu, wajar juga jika mayoritas masyarakat menduga bahwa Surya Paloh sepertinya sedang mengibarkan bendera peperangan. Ini bukan perang, sebab perang berarti berarti kedua belah pihak punya peluang untuk sama-sama meraih kemenangan.

Dalam iklim demokrasi yang kian berkembang di negeri republik tercinta kita, ini hanya menjadi semacam contoh dari perdebatan antara kebaikan dan keburukan, seperti dikesankan Robert Louis Stevenson dalam novelnya yang
mencengangkan “Dr Jeckyl and Hyde”. Kendati begitu, kalau pun harus dianggap perang, semua memang harus siap berperang untuk memperoleh perdamain–seperti dituangkan dalam pepatah latin yang terkenal, ‘Si vis parra bellum’.

Setya Novanto terus digiring sebagai tokoh yang jahat, berbeda dengan menteri ESDM Sudirman Said yang senantiasa dicitrakan sebagai sosok hero. Dia seperti bisa meraih simpati publik dengan pernyataan-pertanyaan yang lembut, terkesan tidak emosional. Siapa menduga jika Sudirman Said-lah yang menjadi lanun atau perompak sesungguhnya.

Kompetensi dan rekam jejak Sudirman Said jauh dari bersih. Pelaporannya kepada media, terutama Metro Tv, dan MKD, menyembulkan dugaan adanya konflik kepentingan dan penyalahgunaan kewenangan. Sudirman Said jelas bermain mata dengan Freeport, untuk memuluskan kepentingan bisnis dia dan  kelompoknya.

Seberapa kuat pengaruh Sudirman Said kepada Surya Paloh, itulah yang menjadi pertanyaan dari mayoritas masyarakat sekarang ini. Keterkaitan antara Sudirman Said dengan menteri BUMN Rini Soemarno juga sudah menjadi rahasia umum, apalagi dengan dirut Freeport Maroef Syamsuddin.

Upaya mereka untuk menyerang Setya Novanto dan memberi kesan ketua DPR sebagai ‘public enemy number one’ sedemikian massifnya. Lihat saja bagaimana kaki-tangan mereka menyebarkan secara sistematis rekaman dari penyadapan pertengahan Juni itu ke tengah-tengah masyarakat, membagikannya kepada kalangan media. Sangat tidak elok dan justru inilah yang melanggar etika.

Ironisnya lagi, dinamika yang terjadi di MKD sepertinya juga tengah dihambat. Tidak boleh lagi ada dinamika terkait dengan alat bukti yang diserahkan oleh menteri ESDM yang lancung itu. Ini bisa disebut menghambat proses demokratisasi, sebab pada dasarnya belum ada verifikasi dan keabsahan dari alat bukti transkip dan rekaman tersebut.@@@