SHARE

RABU (16/12), Mahkamah Kehormatan Dewan akan menyampaikan keputusannya terkait dugaan pelanggaran etik oleh ketua DPR Setya Novanto. Finalisasi rapat internal MKD sudah dilakukan Senin (14/12) malam dan Selasa (15/12).

Rapat internal MKD pada Senin berlangsung hingga lewat tengah malam. Rapat mengevaluasi empat persidangan yang sudah dilakukan, termasuk kesaksian Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan.

Tiga persidangan lainnya, dari menteri ESDM Sudirman Said selaku pengadu, Presdir Freeport Indonesia Maroef Syamsuddin selaku saksi, dan Ketua DPR Setya Novanto sebagai teradu. Ketua DPR dalam hal ini menyampaikan pembelaannya.

MKD memastikan tidak akan memanggil paksa pengusaha minyak Riza Chalid, setelah yang bersangkutan dua kali mangkir dari panggilan.

MKD akan menyampaikan keputusannya pada Rabu mulai pkl 13.00 wib. Untuk itu, MKD akan konsinyering untuk mengambil keputusan.

Pengaduan Sudirman Said mestinya tak bisa diproses karena alat bukti yang dipakai tidak sah. Rekaman ilegal hasil sadapan Maroef Syamsuddin tidak bisa dianggap sebagai barang bukti.

Merujuk pada tidak adanya alat bukti yang sah tersebut, tuduhan dugaan pelanggaran etik oleh Setya Novanto tidak bisa dilanjutkan atau secara otomatis gugur. Mayoritas anggota MKD sangat memahami kenyataan tersebut. Dari 17 anggota MKD, hanya Akbar Faisal yang bersikeras, ketua DPR harus mendapatkan sanksi.

Akbar Faisal tak mengikuti rapat internal MKD Senin malam hingga tuntas. Dia sudah di non-aktifkan dari MKD karena melanggar etik, membocorkan jalannya sidang MKD.

Akbar Faisal menyadap audio kesaksian ketua DPR Setya Novanto saat tampil di sidang tertutup MKD pada 7 Desember lalu. Akbar melakukan itu untuk kepentingan Metro Tv, stasiun televisi milik Surya Paloh. Akbar Faisal adalah kader Partai Nasdem.

Akbar Faisal menjadi anggota MKD dengan menggantikan Fadholi, rekan separtainya. Kini Nasdem harus mencari kadernya lagi