SHARE

Mahkamah Kehormatan Dewan pernah memanggil pengusaha perminyakan Mohamad Riza Chalid untuk diperdengarkan kesaksiannya di sidang MKD. Pemanggilan Riza Chalid disamakan waktunya dengan penyampaian kesaksian dari Ketua DPR Setya Novanto, yakni 7 Desember 2015. Namun, waktu itu hanya Setya Novanto yang datang, dan menyampaikan pembelaannya. Ketua DPR tidak menerima rekaman hasil sadapan ilegal menjadi alat bukti.

Setelah pembelaan dari Ketua DPR Setya Novanto itu mayoritas anggota MKD pun akhirnya  tak terlalu mempermasalahkan pemanggilan Riza Chalid. Ini juga karena MKD belum memperoleh rekaman otentik dari sadapan ilegal Presdir Freeport Maroef Syamsuddin dari pertemuannya dengan Ketua DPR Setya Novanto dan Riza Chalid tersebut.

Akbar Faisal, anggota MKD dari Partai Nasdem-nya Surya Paloh, termasuk anggota MKD yang masih bersikeras agar Riza Chalid dihadirkan di persidangan. Adalah Akbar Faisal juga yang mempersoalkan kehadiran tiga rekannya di kantor Menko Polhukam saat Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan keterangan pers terkait kasus Freeport yang sudah mengusik jiwa korsanya sebagai tentara, Jumat (11/12).

Kehadiran tiga anggota MKD itu, Kahar Muzakkir, Ridwan Bae dan Ades Kadir, disebut Akbar Faisal sebagai pelecehan terhadap institusi MKD. “Saya akan meminta agar mereka disidangkan karena sudah melanggar etik,” katanya.

Kekesalan Akbar Fasail ditanggapi santai. “Kami datang karena diundang dan kami juga mendapat banyak masukan dari pak Luhut terkait kasus yang dihadapi,” begitu antara lain disampaikan Ridwan Bae.

Akbar Faisal rupanya masih merasa dirinya paling bersih. Ia lupa kalau publik sangat kesal dengan perbuatannya yang sangat melanggar etik dengan merekam audio dari penjelasan ketua DPR Setya Novanto saat persidangan 7 Desember lalu. Hasil sadapan audio itu ditayangkan secara langsung oleh Metro TV, televisinya Partai Nasdem.