SHARE

Keraguan itu sudah sirna. Harapan besar sudah layak untuk kembali dikedepankan. Sekarang, masyarakat pun mungkin sudah semakin memahami, bahwa Partai Golkar memang sungguh tak pantas untuk diabaikan dalam jagad perpolitikan di Indonesia dari dulu hingg kini.

Media pun seyogyanya tak lagi berpendapat bahwa sekarang adalah senjakala untuk Partai Golkar.  Cibiran senjakala sangat jauh dari kenyataan. Politik sangat dinamis, dan dinamika politik kini memastikan betapa Partai Golkar terus memperjuangkan tempatnya di tengah masyarakat. Motivasi yang diperoleh dari masa-masa pertikaian di belakang tentunya bisa menjadi pendorong agar dapat memposisikan diri jauh lebih baik lagi. Golkar sekian lama menjadi nomor satu, dan itulah yang semestinya dikejar kembali.

Sekarang, persatuan diantara seluruh kader Partai Golkar menjadi pekerjaan rumah yang luar biasa. Namun, dengan semangat, visi dan misi yang sama, rekonsiliasi diantara seluruh kader Partai Golkar bukannya sekadar euforia. Seperti semboyan “keluarga adalah nomor satu” maka menyatukan kembali keluarga Partai Golkar yang sempat terkotak-kotak tentunya akan menumbuhkan kebanggaan yang istimewa.

Itu semua bisa diwujudkan di arena Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang direncanakan akan segera dihelat dalam waktu secepat mungkin. Para pendiri, sesepuh dan senior Golkar sudah seiring sejalan dengan para fungsionaris partai yang kini tengah merumuskan satu sikap untuk rekonsiliasi. Munaslub adalah satu-satunya jalan untuk membuat Partai Golkar kembali utuh, menyatu, dan solid.

Munaslub kemungkinan akan diselenggarakan antara Februari hingga Juni 2016 mendatang. Karena para fungsionaris partai di tingkat pusat dan daerah masih lelah setelah mengikuti Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas),  23-25 Januari lalu di JCC, Senayan, besar kemungkinan Munaslub baru akan dilaksanakan paling lambat Juni nanti–maksimal sebelum dimulainya Ramadhan.

Biarlah para stakeholders partai melepas kepenatan atau kelelahan pikirannya setelah selama tiga hari beradu argumentasi di arena Rapimnas. Masih ada waktu tersisa untuk sama-sama memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk kepentingan dan keutamaan partai kedepannya. Usulan-usulan atau rekomendasi dari Rapimnas, misalnya, tentunya layak untuk dimatangkan dan kemudian dibawa kembali untuk diputuskan di arena Munaslub nanti.

Semoga pelaksanaan Munaslub Partai Golkar ini tidak lagi terkendala oleh faktor apa pun, termasuk masalah teknis terkait siapa penyelenggara dari Munaslub itu sendiri. Semua sudah harus satu pandangan bahwa Munaslub akan diselenggarakan oleh fungsionaris Partai Golkar hasil Munas Riau, yang menghasilkan kepengurusan pimpinan Aburizal Bakrie dengan sejumlah wakil ketua umum, termasuk Agung Laksono, Setya Novanto, dan Idrus Marham sebagai sekretaris jenderal.

Untuk itu, Menhumham Yasonna Laoly sudah menandatangani perpanjangan Surat Keputusan (SK) mengenai kepengurusan Partai Golkar hasil Munas Riau. Kepengurusan Partai Golkar hasil Munas Riau yang habis masa waktunya pada 15 Desember 2015 , pada Kamis (28/1) diperpanjang masa baktinya untuk enam (6) bulan ke depan. Ini sekaligus menjadi semacam legal standing dari pemerintah bagi mulusmya pelaksanaan Munaslub Partai Golkar tersebut.

Kolaborasi dari ARB dan Agung Laksono kita harapkan akan mewujudkan kepanitiaan Munaslub yang bisa diterima oleh  semua pihak, khususnya Golkar versi Munas Bali yang diketuai oleh Aburizal Bakrie dan Golkar versi Munas Ancol yang dipimpin oleh Agung Laksono.

Semoga!