SHARE
Gamawan Fauzi, namanya kembali disebut terlibat kasus e-KTP.

Sungguh keterlaluan jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih menafikan keterlibatan mantan Mendagri Gamawan fauzi dalam kasus korupsi e-KTP. Kesaksian di persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (20/4/2017)  kembali mengungkap jika peran Gamawan sangat vital.

Nama Gamawan Fauzi kembali disebut dalam sidang oleh saksi Jimmy Iskandar alias Bobby, terkait peran mantan Mendagri itu dalam proyek e-KTP.

“Kalau saya sendiri tidak pernah berjumpa. Saya tidak bisa mengatakan ada keterlibatannya atau tidak,” ujar Bobby di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Namun saat jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencecar hubungan Bobby dengan Hendra, keluarlah semua pengakuan itu. Hendra merupakan saudara kandung dari Gamawan Fauzi.

Menurut Bobby, Hendra sempat berpesan agar Bobby mengikuti arahan Paulus Tannos, selaku Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra. PT Sandipala merupakan salah satu perusahaan yang ikut dalam konsorsium Perum PNRI.

“Dia katakan, ‘sudah, pokoknya ikuti si rambut putih, (Paulus Tannos). Ke mana pun dia pergi, pasti menang’,” kata Bobby mengulang permintaan Hendra. Selain Hendra, Bobby juga pernah bertemu dua saudara Gamawan Fauzi lainnya, yakni Asmin Aulia dan Dadang.

Dalam dakwaan terhadap Irman dan Sugiharto, Gamawan Fauzi disebut menerima aliran dana suap e-KTP sebesar US$ 4,5 juta dan Rp 50 juta. Namun dalam persidangan, Gamawan tak mengakuinya.

Sementara Ketua Panitia Lelang dalam proyek e-KTP Drajat Wisnu Setyawan, mengaku pernah menerima uang 40.000 dollar AS dari terdakwa Sugiharto, yang saat itu selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

“Saat itu momennya Lebaran, ya mungkin untuk panitia lelang,” ujar Drajat kepada jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, 20 April 2017.

Menurut Drajat, saat itu uang diterima langsung dari Sugiharto. Uang tersebut kemudian disimpan. Setelah diperiksa KPK, Drajat menyerahkan uang 40.000 dollar AS tersebut kepada penyidik KPK.

Baca Juga  Gamawan Fauzi, Tokoh Antikorupsi yang Ternyata Koruptor Juga

Drajat membantah adanya penerimaan lain terkait proyek e-KTP. Namun, dalam surat dakwaan, Drajat disebut pernah menerima 75.000 dollar AS dari Sugiharto. Uang tersebut berasal dari pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong. Dalam surat dakwaan, Drajat disebut diperkaya sebesar 615.000 dollar AS dan Rp 25 juta.

Berdasarkan perintah para terdakwa, Drajat memenangkan Konsorsium PNRI sebagai pemenang lelang. Padahal, konsorsium tersebut seharusnya tidak lolos dalam proses seleksi.