SHARE

Garut – Instansi Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Garut, Jawa Barat, membangun pondok pesantren (ponpes) dengan nama Taubatul Mudznibin. Gagasannya, pendirian ponpes ini mempunyai tujuan untuk pembinaan keagamaan pada beberapa narapidana atau warga binaan.

Kepala Kantor Lokasi (Kakanwil) Kemenkumham Jawa Barat, Susi Susilowati, menyebutkan kalau pendirian ponpes Lapas Klas II B Garut adalah yang ke-2 sebelumnya setelah di Cianjur.

” Di sebagian lapas atau rutan (tempat tinggal tahanan) yang beda juga telah ada. Cuma belum juga jadi ujung tombak pembinaan, ” ucap dia waktu resmikan ponpes, Jumat, 21 Juli 2017.

Menurutnya, pendirian lapas berbasiskan pesantren di Jawa Barat adalah usaha untuk memberi pembinaan keagamaan. Dengan hal tersebut, beberapa napi diinginkan dapat memberi contoh yang baik waktu kembali pada orang-orang.

” Kelak selepas keluar dari sini (lapas) mereka dapat jadi santri-santri serta mungkin saja ustaz yang hebat. Terlebih, mereka miliki pengalaman yang pahit. Sekurang-kurangnya dapat bina keluarganya, ” kata dia.

Terkecuali lapas berbasiskan pesantren, lembaganya sudah mulai pembentukan 10 lapas berbasiskan industri. Beberapa warga binaan juga akan memperoleh beragam ketrampilan jadi bekal mereka.

” Memanglah pesantren di lapas juga akan jadi ujung tombak pembinaan, kelak Jawa barat jadi contoh untuk lapas beda di Indonesia berbasiskan pesantren, ” katanya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Sirojul Munir, begitu mengapresiasi berdirinya pondok pesantren di Lapas Klas II B Garut. Ia bangga karna ponpes itu dapat jadi jalan dakwah untuk warga binaan.

” Meskipun telah diinisiasi mulai sejak 2009, pesantren di lapas dapat konkret berdiri hari ini. Terlebih, ada MoU (nota kesepahaman) pada MUI, Kemenag, serta lapas, ” kata dia.

Ada pesantren di lapas jadi jalan untuk MUI dalam mengoptimalkan dakwah Islam. ” Problem dakwah itu tidak terbatas dengan lokasi, komune, dan kondisi keadaan. Dakwah adalah keharusan di tiap-tiap jaman serta saat, ” papar dia.

Mengenai pemimpin Ponpes Taubatul Mudznibin, Lapas Garut, Useng Kamaludin, mengaku lembaganya pernah vakum karna problem biaya. Tetapi, bersamaan perlunya pembinaan keagamaan, pesantren lapas kembali aktif.

” Kurikulum yang kami beri lumayan komplit mulai qiraah, imla, fikih, akidah, serta akhlak. Keseluruhan semua ada enam kelas, mulai ibtidaiyah, tsanawiyah, sampai aliyah, ” kata dia.