SHARE
Selain Nazaruddin, Jaksa Penuntut Umum KPK dijadwalkan memanggil sembilan saksi lainnya, yakni Dian Hasanah, M Jafar Hafsah, Khatibul Umam, Yosep Sumartono, Vidi Gunawan, Munawar, Melchias Marcus Mekeng, Olly Dondokambey, dan Eva Omvita.

Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri akan digelar kembali Kamis (6/4) lusa. Proses persidangan diperkirakan akan semakin seru, dan sangat mungkin akan membuat kasus ini semakin terang benderang.

Pada sidang ke-6 yang dilangsungkan Senin (3/4), kita ketahui sama-sama jika yang menjadi bintangnya adalah Mohammad Nazaruddin, yang pernah sekian lama menjadi bendahara umum Partai Demokrat.

Seperti dipaparkan Nasionalisme.net sebelumnya, memang akan sangat menarik jika tim jaksa KPK menghadirkan Nazaruddin di persidangan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP Kemendagri ini.

Pasalnya, adalah dari senandung Nazaruddin maka kasus ini terbongkar. Dari pemeriksaan yang dilakukan berulangkali oleh tim penyidik KPK kepada mantan politisi dan bendum Demokrat tersebut, sejak 2013, banyak nama yang disebut-sebut terlibat di kasus proyek pelelangan dan pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik tersebut.

 

Terbukti pula jika Nazaruddin ternyata sangat konsisten dengan pernyataan-pernyataannya. Kehidupan yang dijalaninya di dalam penjara tidak merubahnya menjadi seorang penakut. Sosok yang bisa dibilang jenius dalam mengelola bisnis dan mengolah peluang ini bukan seseorang yang bisa ditekan.

nazaroye2

Penampilan Nazaruddin di kursi saksi persidangan kasus e-KTP di PN Tipikor Jakarta sama tenangnya dengan penampilannya di sidang kasus-kasus korupsi berjamaan lain yang harus dijalaninya.

Nazar dengan tenangnya menyebut nama Gamawan Fauzi dan mantan bosnya di Demokrat, Anas Urbaningrum, sebagai dua tokoh yang menjadi penerima dana terbesar dari proyek e-KTP ini.

Nazar juga tidak berupaya menutupi kedekatannya dengan Andi Agustinus atau Andi Narogong, pengusaha rekanan Kemendagri yang memenangkan lelang pengadaan e-KTP.

Gamawan Fauzi, yang loncat dari PDI-P ke Demokrat setelah dipilih SBY menjadi Mendagri pada kabinet 2010-2014, disebut Nazar sebagai sangat dekat dengan Andi Narogong.

Baca Juga  Andi Narogong Akui Beri Uang Pelicin kepada Irman untuk Tender e-KTP

Nazar sama sekali tidak menyebut nama Setya Novanto yang sebelumnya sempat diributkan terlibat dalam proyek ini.

Ia bahkan menegaskan tentang diterimanya uang dari Andi Narogong untuk dua politisi Demokrat lainnya, yakni Jafar Habsah dan Khotibul Imam Wiranu

oyejafar

Jafar menerima 100.000 dolar AS sedangkan Khotibul 400.000 dolar AS.

Lebih dahsyat lagi adalah pernyataan Nazar terkait penerimaan uang untuk Ganjar Pranowo, yang kala itu masih menjadi wakil ketua komisi II DPR.

Ganjar Pranowo menolak pemberian uang sebesar 150.000 dolar AS, maunya 500.000 dolar AS.

Tentang uang yang diberikan kepada Jafar Habsah dan Khotibul Imam Wiranu, disebutkan masing-masing untuk membeli mobil baru dan sebagai modal memperebutkan kursi ketum GP Ansor.

Nazaruddin pernah menyinggung soal uang tersebut kepada Khatibul dan Anas saat ketiganya berada di ruang Fraksi Partai Demokrat.
“Waktu Khotibul kalah, dipanggil sama Mas Anas ke ruang Fraksi. Lalu, karena kalah, saya bilang pulangin setengah dong uangnya, tapi dia bilang sudah habis,” terang Nazaruddin.

Lain hal dengan uang yang diberikan kepada Mohammad Jafar Hafsah. Jafar yang baru terpilih sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat menggantikan Anas yang baru terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, meminta uang untuk membeli mobil.

gongli

“Jadi, waktu itu Pak Jafar baru jadi Ketua Fraksi Demokrat. Waktu itu ada uang e-KTP dikasih Mas Anas (Urbaningrum) untuk Pak Jafar,” kata Nazaruddin.

Anas kemudian memerintahkan Nazaruddin untuk memberikan uang sebesar 100.000 dollar AS kepada Jafar.

Uang tersebut merupakan sebagian dari uang yang diberikan Andi Narogong.

Menurut Nazar, Andi awalnya memberikan 500.000 dollar AS kepada Anas Urbaningrum. Uang tersebut kemudian diletakan di ruang Fraksi Partai Demokrat.

Baca Juga  Gamawan Fauzi Wajib Diperiksa Lagi

“Ruangan saya sebelahan, waktu itu Bang Jafar bilang mau beli mobil. Kemudian, Mas Anas bilang kasih saja 100.000 dollar AS,” kata Nazar.Uang itu digunakan Jafar membeli mobil Toyota Land Cruiser Nomor Polisi B 1 MJH.