SHARE

Kehidupan Novel Baswedan seperti roller-coaster. Seringkali menjadi pusat perhatian, tetapi tiba-tiba saja bisa menjadi sorotan tajam masyarakat dan media.

Yang terakhir itulah yang kini tengah dialami saudara dari calon gubernur DKI Jakarta 2017-2021, Anies Baswedan.

Tiada hujan deras dan angin kencang, Novel Baswedan mendapat Surat Peringatan (SP) dari lembaga yang selama ini dibelanya mati-matian, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lebih mengejutkan lagi, ini adalah Surat Peringatan yang kedua untuk salah satu penyidik senior dan handal lembaga antirasuah tersebut.

Penerbitan SP2 dari KPK untuk salah satu personil yang selama ini dibanggakan tersebut tentu saja langsung disambar dengan spekulasi beragam.

Publik bertanya-tanya, ada apa? Kenapa dengan Novel Baswedan?

susur1

Salah satu spekulasi yang berkembang, mengkait-kaitkan penerbitan SP2 untuk Novel tersebut dengan pengakuan mantan anggota Komisi II DPR RI Miryam S.Haryani

Dalam kesaksiannya dalam lanjutan sidang kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri di PN Tipikor, Kamis (26/3) lalu, Miryam Haryani mengaku berada dalam tekanan Novel Baswedan, Ambarita Damanik dan Irwan Santoso ketika diperiksa di gedung KPK.

Oleh karena itu Miryam S.Haryani meminta kepada majelis hakim agar mencabut BAP yang disebutnya sebagai hasil karangan, semata-mata agar ia segera keluar dari ruangan pemeriksaan dan terbebas dari ancaman tiga penyidik senior KPK tersebut.

Senin (27/3) ini seyogyanya Miryam S Haryani akan kembali dihadirkan di persidangan PN Tipikor. Ia akan dipertemukan dengan Novel Baswedan, Ambarita Damanik, dan Irwan Santoso. Pengakuannya akan dikonfrontasikan dengan keterangan Novel Baswedan dkk, disertai alat bukti berupa pemutaran CCTV yang merekam proses pemeriksaan di gedung KPK itu.

novel4

Novel Baswedan, Ambarita Damanik dan Irwan Santoso sudah hadir di PN Tipikor sejak pagi. Namun, sidang tak jadi digelar karena Miryam S.Haryani tidak datang, dikabarkan sakit.

Baca Juga  Niko Polisikan Novel Baswedan Usai Datangi Bareskrim

Menyoal SP2 untuk Novel  Baswedan, mungkin saja ada kewajiban KPK untuk menjelaskannya ke publik, seandainya tak bertentangan dengan ketentuan.

Akan halnya Novel Baswedan sendiri, ia enggan untuk menjabarkannya kepada awak media.

Ia juga tidak mengetahui apakah penerbitan SP2 tersebut berkaitan dengan proses pemeriksaan terhadap unsur yang bertentangan dengan KPK, pemeriksaan saksi-saksi atas suatu perkara, misalnya.

Namun, ia memastikan tidak ada yang bertentangan dengan hukum dalam proses pemeriksaan terhadap Miryam S.Haryani.

Pemeriksaan terhadap politisi Partai Hanura itu dilakukan secara proporsional dan profesional.

Apapun, Novel kini sedang gundah. Masyarakat mempertanyakan sejauh mana kredibilitas atau tanggung-jawabnya.

novelsaja

Masyarakat mungkin juga tengah merunut kembali perjalanan hidupnya, khususnya ketika ia seperti dikriminalisasi oleh lembaga asalnya, kepolisian.

Sekitar 13 tahun silam, Novel dipersalahkan atas tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh anak  buahnya di Satreskrim Polres Kota Bengkulu. Resor Kota Bengkulu.

Pada 18 Februari 2004, anak buahnya menganiaya tersangka pencuri sarang burung walet. Saat itu, Novel tidak ada di tempat kejadian perkara.

Namun, belakangan, dia disalahkan karena dianggap bertanggung jawab atas perilaku anak buahnya.

Novel sudah menjalani pemeriksaan kode etik di Polres Bengkulu dan Polda Bengkulu.

Dari hasil pemeriksaan, Novel dikenai sanksi berupa teguran.

novel5

Setelah insiden itu, Novel masih dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Bengkulu hingga Oktober 2005.

Pada Oktober 2012 lalu, suasana tegang menyelimuti Gedung KPK.

Ketika itu, sejumlah polisi dari Polda Bengkulu dibantu sejumlah perwira Polda Metro Jaya mendatangi Gedung KPK,  Kuningan, Jakarta, untuk menangkap Novel Baswedan.

Ia diduga melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan atau seseorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana menggunakan sarana paksaan, baik untuk memeras pengakuan maupun untuk mendapat keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 ayat (2) KUHP dan atau Pasal 422 KUHP jo Pasal 52 KUHP yang terjadi di Pantai Panjang Ujung Kota Bengkulu tanggal 18 Februari 2004 atas nama pelapor Yogi Hariyanto.

Baca Juga  Novel Baswedan Sebut Miryam Ditekan Koleganya di DPR

novel2

Novel telah ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka Novel ini tak lama setelah KPK menetapkan Inspektur Jenderal (Pol) Djoko Susilo sebagai tersangka.

Pada 1 Juni 2015, penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri pimpinan AKBP Agus Prasetyono menggerebek kediaman Novel di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Polisi menangkap dan membawanya ke Mabes Polri atas tuduhan pembunuhan pencuri sarang burung walet, kasus yang menjeratnya 2012 silam.