SHARE

Inilah ironi dari seorang Novel Baswedan. Di satu sisi ia dipuji, tetapi dari sisi yang lain ia harus disingkirkan.

Tak bisa dipungkiri, di KPK, Novel adalah seorang patriot. Tetapi, seorang patriot kadang harus bersiap diri untuk dikorbankan atau menjadi martir.

Novel, adalah juga kawan yang baik bagi sebagian besar orang, termasuk kalangan media. Namun, dari sisi sebaliknya, ia juga menjadi musuh bagi sebagian orang lainnya, ya calon-calon koruptor, juga orang-orang dari lingkungan dekatnya sendiri, dari kepolisian atau kejaksaan.

Paparan ini bukanlah bagian dari skenario atau script sebuah cerita novel khayalan mengenai konspirasi dari tokoh-tokoh besar, atau sebuah suspense.

Ini adalah kisah nyata yang bisa menjadi sebuah pencerahan untuk kita semua, sekaligus untuk memahami posisi dari seorang Novel Baswedan yang sebenarnya.

beweses
Novel Baswedan setelah disiram air keras

Seorang Novel Baswedan yang sekarang masih terbaring lemah di sebuah rumah sakit di Singapura untuk menjalani perawatan lanjutan dari luka di bagian wajah dan mata kirinya, akibat siraman air keras dua orang pengendara sepeda motor pada Selasa (11/4O) subuh lalu di dekat kediamannya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Novel, sekali lagi, adalah pahlawan bagi sebagian orang, juga di KPK. Kendati demikian ia juga menjadi sosok yang tidak dikehendaki keberadaannya, tak terkecuali oleh pimpinan KPK.

Di luar kasus e-KTP yang sudah ditanganinya sejak tiga tahun terakhir, yang juga menyeret-nyeret keterlibatan Ketua KPK Agus Rahardjo, Novel ternyata sudah cukup lama hendak diasingkan dari KPK.

Oleh pimpinan KPK yang sekarang Novel sudah dianggap duri dalam daging. Berbagai upaya coba dilakukan pimpinan KPK untuk menyingkirkannya.

Kasus pemberian Surat Peringatan (SP) untuk kedua kalinya kepada Novel, salah satu contohnya.

Baca Juga  Kalau KPK Memang Jujur dan Hebat tak Perlu Khawatirkan Hak Angket
beweseses
Novel Baswedan dan SP2 yang diterimanya

Novel menerima SP2 pada 21 Maret 2017 setelah ia, dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Wadah Pegawai (semacam serikat pekerja/buruh di perusahaan) menyatakan keberatannya terhadap rencana Direktur Penyidik KPK Aris Budiman, yang juga berasal dari korps baju cokelat, yang akan merekrut seorang pamen polisi aktif sebagai kepala satuan tugas penyidikan KPK.

Rencana Aris Budiman ini mengundang kecaman dari Novel Baswedan dan sebagian besar karyawan KPK yang tergabung dalam WP. Menariknya, ketika SP2 Novel  itu bocor ke tangan wartawan di tengah proses persidangan kasus e-KTP di PN Tipikor Jakarta, pimpinan KPK kemudian menarik kembali SP2 tersebut.

Bahasa yang dipakai oleh pimpinan KPK dalam penarikan SP2 Novel itu adalah “dibatalkan sementara”, bukan “dibatalkan”. Basaria Panjaitan, Wakil Ketua KPK dari unsur kepolisian, waktu itu mengatakan bahwa kasus bocornya SP2 Novel  itu ditangani oleh komisi pengawasan internal KPK.

Yang menarik, Basaria Panjaitan yang terakhir berpangkat Irjen Pol itu, sebelumnya bahkan mengaku tak tahu kalau Novel diganjar SP2. “..Coba saya cek dulu,” demikian dikemukakannya setiap kali menjawab pertanyaan media terkait SP2 buat Novel.

kikil

Paparan ini tidak dimaksudkan untuk menambah rumit keadaan dari kondisi yang tengah dialami Novel  sekarang ini. Walau demikian, masyarakat tetap perlu memahami dinamika yang terjadi pada penyidik utama dan senior dari KPK ini. Sangat wajar jika karenanya Novel mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat.

Masyarakat juga hak untuk mengetahui bahwa pimpinan KPK ternyata sudah pernah merencanakan untuk tidak memakai jasa Novel lagi, karena bagaimanapun juga KPK memakai uang negara yang berasal dari masyarakat.

Diketahui bahwa KPK sudah sejak awal 2016 berencana untuk menyingkirkan Novel. Pengusiran Novel dari KPK disebut-sebut sebagai hasil lobi antara pimpinan KPK dan institusi penegak hukum lainnya. Konsekuensi itu diambil KPK setelah ditariknya berkas Novel oleh kejaksaan, dari sebuah kasus krimininalitas yang diduga melibatkan Novel.

Baca Juga  KPK Harus Proses Pihak yang Kembalikan Uang Sogok e-KTP

Dari penelusuran Nasionalisme.net, adalah Wakil Ketua KPK Saut Situmorang yang menyampaikan kabar bahwa KPK akan melepas Novel. KPK akan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi Novel untuk berkembang di tempat lain di luar lembaga antirasuah ini.

pimpin
Pimpinan KPK.

Dari dokumen yang diperoleh Nasionalisme.net, Saut Situmorang pada 4 Februari 2016 itu antara lain mengatakan bahwa Novel itu fleksibel. Oleh sebab itu, diyakini akan bisa menyesuaikan diri di mana saja dan tetap relevan dengan keahliannya.

Kala itu Saut Situmorang juga mengatakan bahwa pimpinan KPK tengah memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah tanpa memunculkan kegaduhan. Seiring ditariknya berkas perkara Novel oleh kejaksaan, maka sesuai dengan kesepakatan, Novel harus hengkang dari KPK

Agar semua tuntas dan Novel bisa mengabdi tanpa diikat oleh masa lalunya, itu kata Saut Situmorang juga.

Ada bantahan dari Saut Situmorang ketika disinggung bahwa pengusiran Novel Baswedan tersebut adalah sebagai hasil lobi-lobi dengan Polri dan Kejaksaan Agung.

Bukan deal-deal, tapi pengembangan lapangan pengabdian anti korupsi buat Mas Novel, agar bisa mengabdi lebih luas lagi di banyak tempat, itu alasan KPK waktu itu.