SHARE
Sidang ke-4 pada kasus dugaan korupsi dalam proyek e-KTP Kemendagri sudah dilangsungkan sejak pkl 09.00 WIB Kamis (30/3) pagi tadi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
Majelis hakim yang dipimpin Jhon Halasan Butar, dan tim jaksa penuntut umum dari KPK, secara bergantian meminta keterangan dari saksi-saksi yang dihadirkan di persidangan hari ini.
Yang menarik, majelis hakim dan tim jaksa KPK menyajikan konfrontasi antara Miryam S.Haryani dengan tiga penyidik KPK, yakni Novel Baswedan, Ambarita Damanik dan Irwan Santoso.
Sosok lainnya yang duduk di bangku saksi adalah Ganjar Pranowo, Agus Martowardojo, Agun Gunandjar Sudarsa, M.Jafar Hafsah, Khotibul Imam Wiranu, dan Dian Hasanah.
Konfrontasi antara Miryam S.Haryani dengan tiga penyidik senior KPK lazim disebut sidang verbalisan.
Ini menjadi sesi pertama persidangan.
Miryam S.Haryani mulai dimintai konfirmasinya pada 10.53 WIB.
miring
Politisi Hanura ini keukeh mempertahankan sikapnya bahwa Novel Baswedan dkk melakukan tekanan terhadap dirinya saat diperiksa di KPK.
Novel Baswedan membantah keterangan Miryam S.Haryani ini.
“Iya, Saya tetap pada kesaksian saya yang lalu soal penyidik,” kata Miryam.
Miryam juga bicara soal adanya  bau duren di ruang penyidik. Pada saat pemeriksaan keempat, Miryam mengaku mabuk akibat bau duren di dalam ruangan.
 
“Pemeriksaan keempat saya dibikin mabuk, mungkin Pak Novel habis makan duren. Saya langsung keluar muntah, bahkan Pak Novel ninggalin saya saja waktu saya muntah-muntah itu,” kata Miryam.
Sebelumnya, jaksa KPK, Irene Putrie, membeberkan bahwa Miryam dalam BAP menyebut beberapa nama anggota DPR. Nama-nama yang disebut adalah Aziz Syamsuddin, Desmond Mahesa, Masinton Pasaribu, dan Syafruddin Suding.
veluk
Novel Baswedan mengungkapkan bahwa Miryam menolak tawaran fasilitas perlindungan saksi oleh KPK. Namun Miryam menolak karena merasa belum memerlukannya.
Mantan pamen Polri ini juga  menegaskan bahwa tidak ada tekanan yang dilakukan oleh para penyidik. Pengakuan itu juga dikonfirmasi oleh Damanik dan M. Irwan. Bahkan Damanik menceritakan bagaimana Miryam selalu tersenyum dan berbicara santun kepada penyidik.
 
“Dan perlu saya tekankan dia ditekan oleh rekan di DPR bukan oleh penyidik,” kata Novel.
Ia juga menceritakan  bahwa proses penyidikan Miryam dilaksanakan dalam kondisi yang nyaman.
 
“Saat itu Miryam sampai mau cerita soal fakta sebelumnya saat ditekan. Berarti dia dalam kondisi nyaman dan keadaan yang baik,” Novel menerangkan.
Baca Juga  Polisi Cek 21 Toko Kimia yang Jual Air Keras Guna Usut Teror Novel