SHARE

Bagi Amerika Serikat, Freeport yang menambang emas di Tambang Grassberg, Papua, adalah perusahaan yang sangat vital. Freeport menjadi kepanjangan tangan pemerintahan Barrack Obama untuk memenuhi cadangan emas yang menjamin nilai mata uang dolar AS.

Tanpa Freeport, cadangan emas AS akan berkurang dan tentunya nilai mata uang dolar AS, mudah goyah. Hal ini jelas-jelas dihindari Obama dan siapa pun penggantinya kelak. Tak heran jika kepastian kontrak karya Freeport di Timika, yang merupakan bagian integral dari Republik Indonesia, sangat penting bagi mereka.

Namun saat ini, kontrak karya yang sudah berlangsung sejak 1967 itu terancam bubar alias tidak diteruskan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kalau pun diteruskan ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh Freeport yang menjadikan usaha menambang emas di Tambang Grassberg, menjadi tidak seksi lagi.

Misalnya keharusan untuk divestasi saham Freeport untuk Indonesia yang mencapai 30 persen. Belum lagi soal aturan pemerintah RI yang mengharuskan semua perusahaan tambang di Indonesia untuk mengeksport bahan-bahan mineral setelah dilakukan pemurnian terlebih dahulu di Indonesia.

Selama ini, hasil tambang Freeport dari Indonesia, langsung dikirim ke Amerika Serikat tanpa proses pemurnian. Eksport dalam bentuk konsentrat yang selama ini mereka lakukan sudah dilarang menurut UU No. 4 tahun 2009.

UU No 4 Tahun 2009 tentang Minerba mewajibkan semua perusahasaan tambang membangun smelter ditandatangani Presiden SBY tanggal 12 Januari 2009.

UU ini dimaksudkan supaya sumber daya alam (SDA) yang tak terbarukan dan menguasai hajat hidup orang banyak, pengelolaannya harus dikuasai oleh negara supaya dapat memberikan nilai tambah secara nyata dalam perekonomian nasional.

Jika dulu Freeport bisa mengambil keuntungan sangat besar hanya dengan mengekspor mineral mentah tanpa proses pengolahan, kini mereka harus gigit jari. Salah satu konsekuensi tersebut adalah larangan ekspor mineral mentah, yang tentu membuat Freeport kehilangan keuntungan besarnya.

Tetapi, tempat pengolahan dan pemurnian (smelter) itu tidak banyak ada di Indonesia. Maka, pemerintah pun mewajibkan semua perusahaan tambang untuk membangun smelter. Selain itu, bisa jadi AS khawatir Indonesia kelak akan tahu, jenis mineral apa saja yang terkandang dari Tambang Grassberg.

Aturan itu sudah berlaku sejak 2014. Namun 7 Oktober 2015, Sudirman Said mencoba untuk mengakali aturan tersebut dengan memberikan kebebasan kepada Freeport, dengan mengajukan PP tersendiri. Beruntung Menko Rizal Ramli menolaknya, sehingga Pemerintahan Presiden Jokowi tidak kecolongan oleh Freeport.

Nah di sinilah awal mula kasus rekaman illegal itu diledakkan. Simak isi rekaman yang menjebak Ketua DPR Setya Novanto.

MR: … Saya yakin Freeport pasti jalan. Kalau sampai Jokowi nekat nyetop, jatuh dia.

MS: Yang jadiin itu Amerika. Nggak diterima di Amerika

Dalam obrolan itu, jelas Maroef Syamsudin sudah meyakini adanya sebuah scenario yang dirancang oleh Amerika untuk menjatuhkan Jokowi jika ia menolak perpanjangan kontrak karya Freeport. Amerika menurut MS telah menjadikan Jokowi sebagai Presiden RI, maka mereka menuntut Freeport sebagai imbalannya. Jika Jokowi, ingkar maka ia akan dijatuhkan. Ini bisa disebut “Plan A”. Rencana itu harus terlaksana sebelum 2019.

Namun jika usaha untuk menjatuhkan Jokowi tersebut gagal, maka sudah disiapkan “Plan B”. Rencana kedua ini lebih mengerikan. Amerika akan merancang sebuah scenario pengambilalihan Tambang Grassberg di Papua secara paksa. Hal itu dimungkinkan dengan menciptakan negara West Papua alias menciptakan revolusi Papua Merdeka.

Kini, semua sudah terungkap secara nyata dan gambling di depan mata. Masyarakat Indonesia tak boleh tinggal diam. Presiden Jokowi tengah diincar untuk dimakzulkan. Hal ini pernah terjadi pada Presiden Sukarno yang menghalang-halangi investasi AS atau Freeport tahun 1965.

Hal serupa terjadi dengan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang tak menyetujui rencana perpanjangan kontrak Freeport seperti yang diajukan bekas Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang kemudian menjadi Komisaris PT Freeport, Henry Kissinger saat datang menemui Gus Dur di Istana Maret 2000.

“Dia datang dan menyampaikan intimidasi kepada Gus Dur. Intinya agar mau perpanjang Kontrak Karya Freeport. Kissinger bilang ke Gus Dur jika Indonesia tidak hormati Kontrak Karya yang dibuat di zaman Soeharto, maka tak akan ada investor yang datang ke Indonesia,” ungkap Adhie Masardie, yang kala itu menjadi juru bicara Gus Dur.

Tapi, Gus Dur melawan dan menegaskan tidak akan menggadaikan masa depan Papua. Pasalnya, kata Adhie, Gus Dur saat itu punya policy untuk melakukan moratorium tehadap Kontrak Karya baru yang berkaitan dengan sumber daya alam. Selain itu Gus Dur juga mengeluarkan kebijakan meninjau kembali Kontrak Karya yang pernah dibuat di zaman rezim Soeharto.

Kini jelas dan terang benderang, betapa busuknya rencana Freeport dan Amerika Serikat di Papua. Mari bergerak dan bersatu menentang kontrak karya Freeport.

 

13 COMMENTS

  1. PAPUA Merdeka bukan dari Pemerintah AS tapi kerja keras dan Diplomasi internasional Issu oleh Pejuang Paua sendiri. AS (freeport) Memang Biadap dan Kroni pada zaman 1965 hingga kini! Papua menjadi DOM dari semenjak itu hingga sekarang. smoga BAJINGAN BAJINGAN di adili mahkama Internasional. Zhallam.

  2. Kalian siapa orang papua aja yg punya tanah diam” aja kok kalian sibuk amat slama ini pemerintah indonesia ada berbuat apa untuk papua pembangunan aja gak ada skarang masalah freeport smua mau berkoar- koar woy nyadar diri dong….!!!

  3. Amerika dan indonesia ada hak apa dalam tanah papua yg punya hak itu pribumi asli..

    Semua omongkosong tipu muslihat kalian sudah terbongkar..
    Ini sudah strategi kennedy dgn soekarno..
    Dari awal pepera Trikora dgn untea sampai saat ini dan untuk selanjutnya maaf sdh tdk bisa lagi…. Mau obama atau jokowi atau iblis terbesar di dalam dunia pun juga tidak akan bisa lagi..

    Jgn kira kita hitam kriting tidak sepintar dan jenius kreatif… Maaf imajinasi saya kedepan tdk biarkan siapa pun dalam dunia ini untk omongkosong itu diatas tanah itu lgi.. Stelah beberapa waktu kedepan ..

  4. aku selaku putra aceh..juga mendukung pak jokowi..jika emang amerika memaksa kehendak.kami pemuda aceh rela mati untk mempertahankan NKRI..wahai saudaraku warga papua.jagan mau slalu di bodohin amerika.kalau emang mereka benar mengapa mereka tak membagun papua..