SHARE

Ini tugas besar Lemhannas, pemerintah, dan Rakyat Indonesia. Wajib dibaca! Tidak hanya layak direnungkan. Akan tetapi juga patut dianalisis secara lebih mendalam.

***

“Arah pemeriksaan kasus dugaan pelanggaraan etik (itu) makin aneh….” Kalimat itu diucapkan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso. Alumni AMN 1968 seangakatan dengan Wiranto dan Agum Gumelar ini baru beberapa bulan menduduki kursi “BIN-1”, menggantikan Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.

Sepuluh tahun bergulat di pemerintahan, sebagai pengendali utama metropolitan Jakarta, tidak membuat denyut sel-sel kelabu di kepala Sutiyoso melemah. Pergulatan pemikirannya masih mencengangkan. Setiap ‘moment-opname’ yang terjadi di sekelingnya seperti terekam dengan sempurna. Sebagai perwira yang lama bermain di intelijen dia menjadi terbiasa waspada. Tak ada yang bersifat kebetulan, seperti yang menjadi ajaran dasar intelijen.

Sudah hampir dua bulan ini Sutiyoso memperhatikan dengan seksama gonjang-ganjing perpolitikan nasional yang melibatkan begitu banyak tokoh-tokoh penting. Diawali dengan beredarnya transkip pembicaraan dari Maroef Syamsuddin, Presdir Freeport Indonesia yang juga mantan Wakil Kepala BIN, dengan ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha Mohammad Riza Chalid. Kewaspadaan Sutiyoso meninggi mengingat muara dari pembicaraan tersebut adalah mengenai Freeport.

Sutiyoso meyakini, BIN sama sekali tidak terlibat dalam upaya penyadapan ilegal yang dilakukan oleh Maroef Syamsuddin. Dirut Freeport ini memang pernah mengabdi di BIN, sejak 2002, hingga menduduki posisi strategis sebagai Waka BIN hingga Desember 20014. Namun, menurutnya, terlalu naif menghubungkan BIN dengan apa yang dilakukan Maroef Syamsuddin sekarang ini. Maroef Syamsuddin melakukan penyadapan ilegal itu tanpa koordinasi dengan BIN, itu pasti!

Dia memang agak menyesalkan penempatan Maroef Syamsuddin yang lama menggeluti intelijen dan pastinya mengetahui banyak rahasia negara serta kerahasiaan para pejabat negara dan pemerintahan itu sebagai pemimpin puncak sebuah perusahaan swasta multinasional. Apalagi milik asing. Tidak salah jika banyak orang menyebutkan adanya kesalahan sedari awal untuk menempatkan Maroef Syamsuddin di sana. Sangkaan, dugaan atau prediksi akan terjadinya konflik kepentingan, sangat mungkin terjadi.

Baca Juga  Operasi XYZ Papua Merdeka: Niat Jahat Freeport kepada Pemerintah RI Lewat Maroef Syamsudin

Tidak salah kiranya jika beberapa anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) mencecar Maroef Syamsuddin dengan pertanyaan seputar kecintaannya pada negara dan semangat belanegara!

Anda masih Merah Putih? Anda masih menjunjung-tinggi Sapta Marga? Demikian dua pertanyaan yang diajukan oleh anggpta MKD kepada Maroef Syamsuddin, saat persidangan marathon Kamis (3/12/2015).

Sutiyoso terhenyak. Dua pertanyaan anggota MKD itu seperti mengingatkannya pada sebuah cerita yang pernah disampaikan seniornya, Hendropriyono, pendahulunya di BIN. Ada korelasi dari pertanyaan tentang semangat “Merah Putih’ yang mestinya masih menggelora di dada Maroef Syamsuddin, dengan isu-isu mengerikan yang beredar luas sekarang ini….

(Baca Juga http://nasionalisme.net/2015/12/05/opertasi-xyz-papua-merdeka-ancaman-perpecahan-nkri-berawal-dari-freeport/ )

Si Kantil (semerbak harum bunganya menyerap bau busuk dan bangkai, jangan coba-coba memecah NKRI)